Memperkuat Peran Dunia Usaha melalui Data, Sentimen, dan Early Warning Ekonomi
Jakarta, 15 Januari 2026 – Dalam rangkaian Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) KADIN Indonesia 2025, KADIN Indonesia secara resmi meluncurkan KADIN Business Pulse, sebuah instrumen pemantauan berkala yang dirancang untuk menangkap sentimen, persepsi, dan rencana dunia usaha terhadap kondisi ekonomi dan iklim usaha nasional.
Peluncuran KADIN Business Pulse menandai langkah strategis KADIN dalam memperkuat peran sektor swasta sebagai mitra kebijakan pemerintah, melalui penyediaan insight berbasis data yang lebih cepat, granular, dan relevan dengan dinamika di lapangan.
KADIN Business Pulse diluncurkan dalam forum Kadin: Global & Domestic Economic Outlook 2026 karena memiliki tujuan yang sejalan, yaitu memperkuat peran sektor swasta dalam pertumbuhan ekonomi nasional melalui kebijakan yang pro-growth, pro-poor, pro-job, dan pro-environment. Sebagai survei berkala, KADIN Business Pulse dirancang untuk menjadi sumber data sentimen dunia usaha yang relevan dengan tema dan agenda kebijakan yang dibahas dalam forum outlook ini.
Business Pulse sebagai Early Warning System Dunia Usaha
KADIN Business Pulse dirancang sebagai early warning system dan policy feedback loop yang melengkapi indikator ekonomi makro konvensional. Melalui survei berkala berbasis anggota KADIN lintas sektor dan skala usaha, Business Pulse memberikan gambaran real-time mengenai kondisi bisnis nasional—baik secara retrospektif maupun prospektif hingga 6–12 bulan ke depan.
Instrumen ini menjawab kebutuhan akan data sentimen dunia usaha yang selama ini masih terbatas, sekaligus membantu menjembatani kesenjangan antara kebijakan publik dan realitas operasional pelaku usaha.
Temuan Awal: Optimisme yang Berhati-hati
Edisi perdana KADIN Business Pulse yang dilakukan pada 1–23 Desember 2025 dengan melibatkan 155 responden anggota KADIN menunjukkan bahwa sentimen dunia usaha berada pada fase optimisme yang terukur.
Sebanyak 40 persen responden menyatakan sentimen positif terhadap kondisi bisnis, sementara 35 persen masih menunjukkan sikap wait-and-see. Faktor utama pendorong optimisme antara lain perkembangan pasar, perbaikan iklim persaingan, serta persepsi terhadap arah kebijakan pemerintah.
Di sisi lain, tantangan struktural yang masih dirasakan pelaku usaha meliputi birokrasi dan regulasi, akses pembiayaan, permintaan pasar, serta ketersediaan dan kualitas tenaga kerja—isu-isu yang menjadi agenda kebijakan strategis ke depan.
Menguatkan Agenda Produktivitas dan Investasi
Hasil Business Pulse juga menunjukkan bahwa hampir 50 persen pelaku usaha berencana melakukan investasi dalam enam bulan ke depan. Namun, tingginya proporsi pelaku usaha yang masih menunda keputusan investasi menegaskan pentingnya kepastian regulasi, efisiensi perizinan, dan iklim usaha yang kondusif.
Dalam konteks ini, KADIN Business Pulse diharapkan menjadi dasar berbasis data untuk mendukung agenda peningkatan produktivitas nasional, perluasan lapangan kerja, serta penguatan sektor riil—sejalan dengan lima pokok pikiran KADIN.
Instrumen Strategis KADIN dalam Dialog Kebijakan
Melalui KADIN Business Pulse, KADIN memperkuat posisinya sebagai co-pilot pemerintah dalam transformasi ekonomi, tidak hanya melalui advokasi, tetapi juga kontribusi data dan analisis yang terstruktur.
Ke depan, Business Pulse akan dikembangkan sebagai survei berkala yang konsisten, dengan cakupan responden yang semakin luas dan analisis sektoral yang lebih mendalam, guna mendukung perumusan kebijakan yang lebih tepat sasaran dan berdampak nyata bagi dunia usaha.
Mendorong Pertumbuhan yang Berkualitas dan Inklusif
Peluncuran KADIN Business Pulse mencerminkan komitmen KADIN untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang tidak hanya tinggi, tetapi juga berkualitas—pertumbuhan yang mampu menyerap tenaga kerja, meningkatkan produktivitas, memperkuat industrialisasi, serta menjaga keberlanjutan lingkungan.
Dengan pendekatan berbasis data dan kolaborasi erat antara dunia usaha dan pemerintah, KADIN optimistis Indonesia dapat menjaga momentum pertumbuhan dan memperkuat ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.


