Jakarta, 23 Januari 2026 – Dalam rangka memperkuat pemahaman dunia usaha terhadap tantangan sumber daya manusia di tengah perubahan dunia kerja global, Kadin Indonesia Institute (KII) menyelenggarakan Executive Brief yang membahas Gallup Survey: State of the Global Workplace 2025. Sesi ini menghadirkan Roma Tampubolon untuk mengulas dinamika employee engagement global, posisi Indonesia di kawasan, serta implikasinya bagi keberlanjutan bisnis.
Diskusi ini berangkat dari temuan KADIN Business Pulse, survei periodikal KII yang menangkap persepsi riil para pelaku usaha Indonesia. Hasil terbaru menunjukkan bahwa tenaga kerja dan sumber daya manusia secara konsisten masuk dalam lima besar tantangan utama dunia usaha, dengan isu tenaga kerja menempati peringkat keempat (9%). Kekhawatiran pelaku usaha mencakup produktivitas, kesiapan talenta, kualitas kepemimpinan, serta keberlanjutan kinerja organisasi. Temuan inilah yang mendorong KII untuk membagikan perspektif global Gallup, sekaligus menempatkan snapshot Indonesia dalam konteks regional dan global.
Employee Engagement sebagai Isu Strategis Bisnis
Gallup berangkat dari pendekatan positive psychology dengan pertanyaan kunci: “What will happen when we focus on what is right with people?” Dalam konteks ini, Gallup membedakan secara tegas antara happiness dan employee engagement.
Happiness umumnya dipengaruhi oleh faktor jangka pendek seperti fasilitas, insentif, atau kegiatan menyenangkan di tempat kerja, namun tidak cukup kuat untuk membangun loyalitas. Sebaliknya, engagement bertumpu pada purpose, autonomy, dan mastery, yang membuat karyawan merasa perannya bermakna, memiliki ruang bertumbuh, dan terdorong untuk bertahan.
Gallup menegaskan bahwa happy employees tidak selalu engaged employees. Engagement muncul ketika kebutuhan dasar karyawan terpenuhi—mulai dari kejelasan peran dan ketersediaan tools, hingga kesempatan berkontribusi dan berkembang. Pada titik ini, engagement tidak lagi menjadi isu HR semata, melainkan nyawa bisnis yang berdampak langsung pada produktivitas, profitabilitas, dan wellbeing.
Melalui pendekatan behavioral economics, Gallup menunjukkan hubungan yang saling terkait: engaged employees menghasilkan engaged customers, yang pada akhirnya mendorong kinerja bisnis yang lebih baik. Hal ini menegaskan bahwa tantangan tenaga kerja yang disorot dalam Business Pulse KADIN memiliki implikasi langsung terhadap daya saing perusahaan.

Tren Global dan Posisi Indonesia
Secara global, engagement mengalami tekanan pasca pandemi. Setelah berada di level 23% pada 2022–2023, engagement global turun menjadi 21% pada 2024 akibat tekanan geopolitik, konflik global, dan disrupsi teknologi, sebelum meningkat kembali ke 22% pada 2025. Dua isu utama yang mendominasi dunia kerja global adalah stress dan loneliness.
Gallup juga menyoroti peran manajer sebagai faktor penentu engagement. Namun, hanya 40% manajer global yang pernah menerima pelatihan kepemimpinan formal—di bawah angka ideal 44%. Kesenjangan ini menjadi tantangan serius bagi organisasi di berbagai negara.
Di Asia Tenggara, tingkat engagement relatif lebih tinggi dibandingkan rata-rata global. Filipina mencatat engagement sebesar 38%, Thailand 33%, dan Indonesia berada di angka 27%. Secara regional, proporsi karyawan yang engaged mencapai 26%, dibandingkan global 21%, dengan tingkat actively disengaged yang jauh lebih rendah. Data ini menunjukkan ruang perbaikan yang signifikan bagi Indonesia melalui penguatan kepemimpinan dan sistem manajemen talenta.
Dari Boss ke Coach: Jawaban atas Tantangan Tenaga Kerja
Gallup menekankan perlunya pergeseran peran manajer dari pendekatan command and control menuju coaching approach. Kepemimpinan berbasis kekuatan (strengths-based leadership) terbukti membangun trust dan ownership. Manajer yang berperan sebagai coach menunjukkan tingkat engagement lebih tinggi dan turnover lebih rendah.
Praktik sederhana seperti weekly check-ins, strengths conversation, dan recognition menjadi intervensi berbiaya rendah namun berdampak tinggi untuk menjawab tantangan tenaga kerja yang dihadapi dunia usaha Indonesia.

Implikasi bagi Organisasi Indonesia
Bagi organisasi Indonesia, pesan utama dari Gallup dan Business Pulse KADIN selaras: bangun true engagement, bukan sekadar program kebahagiaan. Fokus perlu diarahkan pada pengembangan kepemimpinan dan coaching, mendorong empowerment dan inisiatif, serta menyelaraskan budaya kerja dengan kinerja bisnis.
Dalam konteks keberlanjutan, organisasi perlu memprioritaskan critical roles, high potential, dan high performance, agar tetap tangguh menghadapi perubahan dan ketidakpastian.
Catatan Penutup
Executive Brief ini ditutup dengan refleksi kunci: “Apa satu perubahan berdampak tinggi yang dapat dilakukan organisasi dalam 12 bulan ke depan?” Area fokus mencakup pengembangan manajer, peningkatan empowerment, dan pengukuran engagement yang konsisten.
Gallup menegaskan bahwa toxic leadership menurunkan performa organisasi, sementara kepemimpinan yang sehat menjadi pengungkit utama engagement, produktivitas, dan keberlanjutan bisnis—menjadikan isu tenaga kerja bukan hanya tantangan, tetapi peluang strategis bagi dunia usaha Indonesia.



