Jakarta, 24 April 2026 – Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin Indonesia) merilis hasil survei Kadin Indonesia Business Pulse untuk kuartal I 2026. Survei ini merupakan inisiatif Kadin Indonesia Institute yang dilakukan secara berkala setiap kuartal untuk menangkap sentimen dan persepsi dunia usaha terhadap kondisi ekonomi, bisnis, dan investasi di Indonesia.
Survei yang dilaksanakan pada 17 Maret – 5 April 2026 dengan melibatkan 210 responden anggota Kadin yang tersebar di 27 provinsi menunjukkan bahwa kondisi bisnis pada Q1-2026 mengalami penurunan dibandingkan kuartal sebelumnya. Hal ini tercermin dari meningkatnya proporsi responden yang menyatakan kondisi bisnis tidak lebih baik dari kuartal sebelumnya, dari 34,8% pada Q4-2025 menjadi 40,5% pada Q1-2026. Sementara itu, proporsi yang menyatakan kondisi lebih baik turun dari 39,3% menjadi 25,2%, dan respon netral meningkat dari 25,3% menjadi 34,3%.

Sejalan dengan itu, persepsi terhadap kondisi sektor industri juga menunjukkan pelemahan. Proporsi responden yang menilai kondisi sektor industri tidak lebih baik meningkat dari 35,5% menjadi 44,3%, sementara yang menyatakan lebih baik menurun dari 39,3% menjadi 22,9%. Peningkatan respon netral menjadi 32,9% mencerminkan bahwa pelaku usaha cenderung berada dalam posisi menahan diri di tengah ketidakpastian.

Penurunan ini mencerminkan tekanan yang dihadapi pelaku usaha, baik dari sisi permintaan maupun biaya. Daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya berdampak pada permintaan yang belum stabil, sementara kenaikan biaya operasional seperti bahan baku dan energi turut menekan kinerja usaha. Di sisi lain, dinamika global memberikan tekanan tambahan melalui fluktuasi harga serta gangguan distribusi, sehingga pelaku usaha cenderung lebih berhati-hati dalam menjalankan aktivitas bisnis.
Sejalan dengan pelemahan kondisi bisnis, rencana investasi dalam enam bulan ke depan juga menunjukkan penurunan. Proporsi responden yang berencana melakukan investasi turun dari 47,1% pada Q4-2025 menjadi 38,6% pada Q1-2026, sementara yang tidak berencana meningkat dari 24,5% menjadi 39,0%. Hal ini mencerminkan meningkatnya kehati-hatian pelaku usaha, yang lebih memprioritaskan menjaga likuiditas dan stabilitas usaha dibandingkan melakukan ekspansi.

Dari sisi tantangan, pelaku usaha menghadapi berbagai tekanan. Tantangan utama berasal dari kebijakan dan program pemerintah (16,7%), diikuti oleh birokrasi (14,3%) dan rendahnya permintaan (11,4%). Selain itu, faktor lain seperti akses pembiayaan (9,5%) dan ketidakpastian hukum (9,3%) juga turut memengaruhi kondisi usaha, menunjukkan bahwa tantangan yang dihadapi semakin kompleks, baik dari sisi domestik maupun eksternal.

Di tengah tekanan tersebut, terdapat sejumlah perkembangan positif yang tetap menjadi sumber optimisme. Perkembangan pasar (24,1%) masih menjadi pendorong utama, diikuti oleh perkembangan teknologi (22,0%) yang meningkat signifikan seiring percepatan digitalisasi. Selain itu, kebijakan (13,6%) dan regulasi yang membaik (11,9%) mulai memberikan dukungan, meskipun belum dirasakan secara merata di seluruh sektor usaha.

Survei Kadin Indonesia Business Pulse Q1 2026 ini juga mengkaji dampak dinamika geopolitik global terhadap dunia usaha. Perang di Timur Tengah menjadi perhatian serius para pelaku usaha Indonesia. Hasil survei menunjukkan bahwa tekanan utama dirasakan melalui lonjakan harga energi atau komoditas (20,9%), depresiasi nilai tukar rupiah (16,2%), serta penurunan permintaan pasar (16,2%). Selain itu, meningkatnya risiko operasional usaha (11,8%), ketidakpastian pasar global (11,5%), dan gangguan rantai pasok (10,9%) turut memperbesar tantangan yang dihadapi pelaku usaha.

Dalam menghadapi kondisi tersebut, sebagian pelaku usaha menyatakan siap (36,7%), sementara 32,4% berada pada posisi netral dan 25,8% menyatakan belum siap. Pelaku usaha yang merasa siap cenderung memiliki pandangan yang lebih optimis terhadap kondisi bisnis, sedangkan yang belum siap lebih didominasi oleh pandangan pesimis.
Langkah antisipatif yang paling banyak dilakukan perusahaan adalah efisiensi biaya operasional (33,9%). Namun demikian, masih terdapat 29,3% pelaku usaha yang belum atau tidak melakukan langkah khusus. Beberapa strategi adaptif mulai dilakukan, seperti diversifikasi mitra dagang (9,9%), peninjauan kontrak dan rantai pasok (9,5%), serta diversifikasi sumber bahan baku (7,1%), meskipun pemanfaatan instrumen lindung nilai masih terbatas.

Dari sisi kebijakan yang diharapkan, pelaku usaha menilai dukungan subsidi atau insentif fiskal sementara (19,8%) dan kemudahan akses pembiayaan (19,5%) sebagai prioritas utama. Selain itu, stabilitas nilai tukar dan kebijakan moneter yang responsif (16,7%), serta dukungan terhadap logistik dan pasokan energi (masing-masing 15,1%) juga menjadi kebutuhan penting dalam menjaga keberlangsungan usaha.

Meskipun kondisi Q1-2026 menunjukkan adanya tekanan, pelaku usaha tetap memiliki optimisme terhadap perbaikan pada kuartal berikutnya. Sebagian besar responden (39,5%) meyakini bahwa kondisi bisnis akan membaik pada Q2-2026, didorong oleh faktor kebijakan pemerintah pusat, perkembangan pasar internasional (16,2%), serta kepastian hukum (14,3%).
Kadin Indonesia Institute memandang bahwa diperlukan kebijakan yang lebih responsif dan selaras dengan kebutuhan dunia usaha, terutama dalam menjaga stabilitas, memperkuat ketahanan rantai pasok, serta mendorong efisiensi dan transformasi usaha. Di tengah dinamika global yang terus berkembang, keterlibatan dunia usaha dalam perumusan kebijakan menjadi semakin penting untuk memastikan ekonomi Indonesia tidak hanya tangguh tetapi juga tumbuh di tengah tekanan geopolitik global.
Hasil lengkap survei dapat dilihat dalam Survei Kadin Business Pulse.


