Kenaikan BBM Nonsubsidi Dorong Kelas Menengah-Atas Beralih ke Kendaraan Listrik
Kenaikan harga BBM nonsubsidi sejak 18 April 2026 mendorong konsumen kelas menengah atas beralih ke kendaraan listrik karena pertimbangan efisiensi biaya dan lingkungan. Lonjakan harga dipicu oleh kenaikan harga minyak dunia serta konflik geopolitik. Namun, transisi tidak merata; kelompok menengah masih menghadapi kendala harga kendaraan listrik yang meningkat akibat gangguan rantai pasok dan berkurangnya insentif pemerintah. Akibatnya, sebagian konsumen masih menunda keputusan pembelian meskipun tren peralihan mulai terlihat. (Investor.id)
Pengusaha Terpaksa Kuras Likuiditas Demi Amankan Bahan Baku Plastik
Pelaku industri, khususnya sektor makanan dan minuman, terpaksa menguras likuiditas akibat lonjakan harga bahan baku plastik hingga sekitar 45%. Kenaikan ini dipicu gangguan pasokan global, terutama dampak konflik di Timur Tengah yang menghambat distribusi nafta sebagai bahan utama plastik. Akibatnya, pemasok menerapkan pembayaran tunai di muka, sehingga menekan arus kas perusahaan. Kondisi tersebut meningkatkan beban operasional dan berpotensi mengganggu keberlanjutan produksi serta stabilitas industri nasional. (Investor.id)
Siapkan Pagu Rp 500 Miliar, DJP Industri Manfaatkan Insentif PPh Pasal 21 DTP
Direktorat Jenderal Pajak menyiapkan pagu Rp500 miliar untuk insentif Pajak Penghasilan Pasal 21 Ditanggung Pemerintah (PPh 21 DTP) tahun 2026. Kebijakan ini ditujukan bagi pekerja pada sektor industri padat karya dan pariwisata guna menjaga daya beli serta meningkatkan daya saing usaha. Insentif berlaku Januari–Desember 2026, memungkinkan karyawan menerima penghasilan tanpa potongan pajak. Pemerintah berharap pelaku usaha lebih optimal memanfaatkan fasilitas ini, mengingat realisasi sebelumnya belum terserap penuh. (Kontan.co.id)
Windfall Komoditas Belum Optimal, Indef Dorong Skema Pajak Progresif
Laporan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai pemanfaatan windfall dari lonjakan harga komoditas belum optimal bagi penerimaan negara. Mekanisme royalti saat ini dianggap tidak efektif karena hanya menangkap sebagian kecil keuntungan ekstra saat harga tinggi, sehingga lebih banyak dinikmati pelaku usaha. Indef mendorong penerapan pajak progresif berbasis keuntungan, seperti Progressive Resource Rent Tax (PRRT), agar negara dapat meningkatkan penerimaan secara signifikan tanpa mengganggu investasi, dengan potensi tambahan hingga puluhan triliun rupiah per tahun. (Kontan.co.id)
Harga LPG 12 Kg Naik, Ekonom: Daya Beli Masyarakat Tak Terdampak Signifikan
Kenaikan harga LPG nonsubsidi 12 kg sebesar 18,75% menjadi sekitar Rp228.000 per tabung dinilai tidak berdampak signifikan terhadap daya beli masyarakat. Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin menilai konsumennya didominasi kelompok menengah atas yang relatif tidak rentan, sehingga efek terhadap konsumsi terbatas. Kontribusinya terhadap inflasi juga rendah dan masih dapat ditoleransi. Namun, terdapat potensi dampak tidak langsung melalui kenaikan biaya usaha, khususnya pada sektor UMKM, yang dapat menimbulkan efek lanjutan bagi masyarakat berpenghasilan rendah. (Kontan.co.id)
Daya Beli Tertekan, Kenaikan Harga dan Biaya Produksi Ancam Pertumbuhan Ekonomi
Kenaikan harga barang akibat lonjakan biaya produksi—dipicu mahalnya bahan baku dan logistik karena konflik global—menekan daya beli masyarakat. Produsen menaikkan harga untuk menjaga margin, namun kondisi ini melemahkan konsumsi. Di sisi lain, ketidakpastian permintaan mendorong pelaku usaha menahan produksi sehingga pasokan berpotensi berkurang. Tekanan simultan pada permintaan dan penawaran tersebut berisiko memperlambat aktivitas ekonomi. Jika berlanjut, kondisi ini dapat menekan bahkan menyebabkan stagnasi pertumbuhan ekonomi nasional. (Kontan.co.id)
Harga Bahan Baku Melonjak, Ekonom Wanti-Wanti Daya Beli Kelas Menengah Makin Terseok
Kenaikan harga bahan baku akibat konflik Timur Tengah dan potensi El Nino mendorong peningkatan biaya produksi, khususnya sektor makanan dan minuman. Ekonom Rahma Gafmi menilai produsen akan meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen, sehingga menekan daya beli kelas menengah. Kelompok ini rentan karena sebagian besar pendapatan digunakan untuk konsumsi rutin. Dampaknya, permintaan barang non-esensial melemah dan masyarakat beralih ke produk lebih murah. Tanpa intervensi kebijakan, kondisi ini berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi hingga 2026. (Kontan.co.id)
Kinerja Pengawasan Kepatuhan Material Seret, Penerimaan Baru Rp 136 Triliun
Realisasi penerimaan pajak dari kegiatan Pengawasan Kepatuhan Material (PKM) pada 2025 hanya mencapai sekitar Rp136,11 triliun atau 52,89% dari target Rp257,54 triliun. Capaian ini mencerminkan kinerja yang masih lemah, terutama pada fungsi pengawasan dan pemeriksaan yang belum memenuhi target. Meski demikian, beberapa aspek seperti penegakan hukum dan penagihan menunjukkan pertumbuhan. Tidak tercapainya target dipengaruhi oleh kondisi ekonomi yang lesu, ketidakpastian global, serta penurunan daya beli masyarakat yang menekan kinerja penerimaan negara. (Kontan.co.id)
Menjaga Defisit 3% PDB: Layak Dipuji atau Perlu Diwaspadai?
Pemerintah berkomitmen menjaga defisit APBN di bawah 3% PDB guna mempertahankan kredibilitas fiskal dan peringkat investasi. Target ini dinilai positif, namun ekonom mengingatkan tantangan semakin berat karena tekanan eksternal, seperti kenaikan harga minyak, pelemahan rupiah, dan meningkatnya biaya utang. Defisit awal 2026 yang cukup besar menunjukkan ruang fiskal mulai tertekan. Jika tidak didukung penerimaan kuat dan disiplin belanja, target berisiko menjadi sekadar administratif. Oleh karena itu, kebijakan fiskal yang realistis dan fleksibel dinilai lebih penting dibanding sekadar menjaga batas nominal. (Kontan.co.id)
PALMEX Jakarta 2026 Siap Dorong Transformasi Digital Industri Sawit
Pameran teknologi kelapa sawit internasional PALMEX Jakarta 2026 akan diselenggarakan pada 6–7 Mei 2026 di JIEXPO Kemayoran sebagai ajang ke-16. Kegiatan ini bertujuan mendorong transformasi digital, inovasi, dan efisiensi industri sawit global. Indonesia, sebagai produsen utama dunia, memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat hilirisasi dan nilai tambah ekonomi. Acara tersebut akan menghadirkan ratusan merek internasional serta menarik ribuan profesional industri. Fokus teknologi meliputi otomasi, pengolahan, dan solusi berkelanjutan, sekaligus menjadi forum kolaborasi antara pelaku usaha, regulator, dan investor. (Investor.id)