Cikarang, 2025 – Hyundai Motor Manufacturing Indonesia (HMMI) menerima kunjungan delegasi Kadin Indonesia dalam acara Kadin Indonesia Institute Go-See-Pitch Trip. Kunjungan ini membahas penguatan pemahaman rantai nilai industri otomotif nasional, hilirisasi teknologi kendaraan listrik (EV), serta peluang kolaborasi untuk peningkatan kapasitas tenaga kerja dan kemitraan industri. Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat peran Indonesia sebagai basis produksi kendaraan listrik untuk pasar regional dan global.

Acara dibuka dengan sambutan oleh Bapak Mulya Amri, Ph.D., Direktur Eksekutif Kadin Indonesia Institute, yang menekankan pentingnya sinergi industri, pemerintah, dan lembaga pengembangan SDM dalam membangun daya saing manufaktur nasional. Dalam sambutan berikutnya, Bapak Wiranata dari jajaran pimpinan HMMI menegaskan bahwa Hyundai berkomitmen memperkuat ekosistem industri otomotif Indonesia melalui transfer teknologi, kemitraan dengan pemasok nasional, dan penciptaan lapangan kerja berkualitas.
Tur Fasilitas Produksi Hyundai: Dari R&D hingga EV Assembly
Delegasi melakukan tur fasilitas industri HMMI yang terdiri dari laboratorium riset, lini produksi, hingga pusat perakitan kendaraan listrik. Proses produksi di Hyundai mencakup lima tahapan utama:
- Research & Development (R&D): pengembangan engine test, durability test, dan riset baterai melalui program Used Battery Energy Storage System (UBESS). Hyundai juga berkolaborasi dengan ITB dalam pengembangan sistem teknologi suara berbasis mesin.
- Press Shop: proses pembentukan rangka kendaraan dengan teknologi press forming berpresisi tinggi.
- Body Shop: perakitan struktur kendaraan dibantu 410 robot otomatis di 231 station untuk produk seperti CRETA, STARGAZER, KONA EV, IONIQ 5, dan SANTA FE.
- Paint Shop: proses pengecatan ramah lingkungan menggunakan sistem dust collecting.
- Assembly Shop: instalasi komponen utama kendaraan termasuk pemasangan baterai untuk kendaraan listrik dengan standar inspeksi kualitas terintegrasi.
Tur juga menyoroti strategi lokalisasi produksi Hyundai, di mana 139 komponen telah dipasok dari produsen lokal Indonesia, sementara 77 item lainnya berasal dari Korea dan India. Produk Hyundai dari Indonesia telah diekspor ke berbagai negara seperti Malaysia, Vietnam, Myanmar, Meksiko, dan Uni Emirat Arab.
Dialog Industri: TKDN, SDM, dan Green Manufacturing

Sesi tanya jawab menghadirkan jajaran pimpinan HMMI:
- Bapak Bobby Purnama — Head of Purchasing / Purchasing & Supply Chain.
- Bapak Ade Mahendra — Head of External Affairs.
Dalam sesi diskusi, HMMI menegaskan komitmennya terhadap peningkatan TKDN melalui program tier-down untuk membuka peluang bagi supplier lokal. “Setiap tahun kami melakukan kajian komponen untuk melihat potensi substitusi lokal. Ini komitmen nyata Hyundai memperkuat rantai pasok nasional,” jelas Bapak Bobby Purnama.
Isu sustainability juga menjadi perhatian dalam manufaktur Hyundai. Bapak Wiranatha menjelaskan bahwa HMMI menerapkan sistem zero defect, efisiensi energi melalui panel surya, serta pengelolaan limbah produksi bekerja sama dengan mitra tersertifikasi.
Pengembangan SDM Industri
Hyundai menilai pembangunan kapasitas SDM menjadi bagian penting dalam transisi menuju industri otomotif masa depan. Melalui Hyundai Academy, perusahaan membuka pelatihan vokasi dan program magang bagi siswa sekolah teknik dan politeknik di wilayah Cikarang. HMMI juga menyediakan dukungan pengembangan jenjang pendidikan lanjutan bagi karyawan bekerja sama dengan President University.
“Industri otomotif masa depan membutuhkan talenta di bidang STEM—khususnya teknik elektro, mekatronika, material, dan otomasi manufaktur,” ujar Bapak Ade Mahendra.
Sesi Pitching Kolaborasi

Kegiatan ditutup dengan sesi presentasi inisiatif kolaborasi dari sektor swasta dan kawasan industri:
- Ardantya Syahreza – M Health Corporate Wellness, dengan fokus pada keselamatan kerja dan kesehatan industri.
- Riris Sianipar – PT Kawasan Industri Terpadu Batang, yang menawarkan peluang integrasi pusat produksi EV dalam kawasan industri hijau.
Kunjungan ini membuka ruang kolaborasi strategis antara industri manufaktur otomotif dengan sektor pendidikan, teknologi, dan kebijakan publik. Ke depan, sinergi lintas sektor diharapkan memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat produksi kendaraan listrik di Asia Tenggara serta mendorong terbentuknya ekosistem industri yang berdaya saing global dan berkelanjutan.


