Membangun Rantai Nilai Baterai Berkelanjutan dan Berdaya Saing Global
Jakarta, 8 Desember 2025 – Kadin Indonesia Institute (KII) bersama Purnomo Yusgiantoro Center (PYC) dan Climateworks Centre menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) “Sustainable Ecosystem of EV Battery” di Menara Kadin, Jakarta Selatan. Kegiatan ini merupakan bagian dari kajian bersama berjudul “Analisis Prospek Pengolahan dan Manufaktur Baterai Berkelanjutan di Indonesia” yang bertujuan memperkuat daya saing industri baterai nasional sekaligus memastikan keberlanjutan lingkungan dan sosial.
FGD ini mempertemukan perwakilan kementerian/lembaga, BUMN, pelaku industri, asosiasi, lembaga riset, serta pemangku kepentingan strategis untuk mendiskusikan temuan awal (preliminary findings) dan draft rekomendasi kebijakan guna mendukung hilirisasi mineral kritis, pengembangan industri baterai, dan ekosistem kendaraan listrik (EV) di Indonesia.
Indonesia dan Ambisi Industri Baterai Global

Permintaan global terhadap baterai kendaraan listrik diproyeksikan meningkat hingga enam kali lipat pada 2030 seiring percepatan transisi menuju ekonomi rendah karbon. Indonesia memiliki posisi strategis dengan cadangan nikel yang besar, kapasitas pemurnian yang terus berkembang, serta minat investasi yang kuat.
Namun, hasil kajian Climateworks Centre dan PYC menunjukkan bahwa keunggulan sumber daya alam saja belum cukup. Keberhasilan Indonesia dalam jangka panjang akan sangat ditentukan oleh pilihan jalur teknologi, strategi industri, serta sejauh mana prinsip keberlanjutan diintegrasikan ke dalam rantai pasok baterai nasional.
Saat ini, industri baterai domestik masih bertumpu pada:
- Hulu: pertambangan dan sebagian pemurnian yang relatif kuat
- Midstream: manufaktur sel dan battery pack yang masih terbatas dan tersebar
- Downstream: pemanfaatan yang mayoritas berfokus pada kendaraan listrik
Tanpa penguatan kapasitas midstream, Indonesia berisiko terjebak sebagai pemasok bahan baku, bukan produsen sistem baterai bernilai tambah tinggi.
Dinamika Teknologi dan Tantangan Strategis
Diskusi menyoroti bahwa rantai pasok baterai global tidak lagi hanya bertumpu pada nikel. Selain baterai berbasis Nickel-Manganese-Cobalt (NMC), teknologi Lithium-Iron-Phosphate (LFP) yang lebih murah dan kompetitif semakin dominan, khususnya di pasar Asia. Hal ini menegaskan bahwa:
- Pilihan teknologi akan sangat memengaruhi arah investasi dan kemitraan global
- Kebijakan industri perlu adaptif terhadap dinamika teknologi baterai
Selain aspek teknologi, peserta FGD juga menekankan risiko lingkungan dan sosial sebagai faktor penentu daya saing. Isu kualitas air, polusi udara, kesejahteraan masyarakat sekitar tambang, serta intensitas karbon dari sumber listrik menjadi perhatian utama, terutama di tengah meningkatnya tuntutan global terhadap ethical sourcing dan standar rendah emisi.
Perspektif Kebijakan dan Industri

Dalam sambutannya, Mulya Amri, Direktur Eksekutif Kadin Indonesia Institute, menekankan pentingnya sinkronisasi kebijakan lintas sektor agar hilirisasi mineral kritis dapat menghasilkan nilai tambah yang berkelanjutan.
Presentasi temuan awal disampaikan oleh Fikri Muhammad dan Dinda Maharani dari Climateworks Centre, yang menggarisbawahi bahwa kebijakan proteksi, insentif investasi, dan persyaratan kandungan lokal selama ini berhasil menarik investasi, namun belum secara konsisten membangun rantai nilai baterai yang utuh dan berkelanjutan.
Dari sisi dunia usaha, Bobby Gafur Umar, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Investasi, Hilirisasi, Energi, dan Lingkungan Hidup, menyoroti pentingnya kejelasan arah kebijakan, kepastian investasi, serta kesiapan infrastruktur dan SDM untuk mendorong industri baterai nasional naik kelas.
Rekomendasi Awal: Menuju Ekosistem Baterai Berkelanjutan

Berdasarkan diskusi dan analisis, FGD mengidentifikasi sejumlah tuas kebijakan utama, antara lain:
- Penyusunan roadmap nasional industri baterai yang terintegrasi antara kebijakan industri, energi, dan lingkungan
- Pengaitan insentif fiskal dengan transfer teknologi, riset & pengembangan, serta penggunaan energi bersih
- Investasi terarah pada kapasitas midstream dan pengembangan tenaga kerja
- Pengembangan industri daur ulang baterai domestik untuk memperkuat sirkularitas dan mengurangi ketergantungan pada bahan mentah
Pendekatan ini dinilai penting untuk menjaga kredibilitas Indonesia di pasar global, meningkatkan nilai tambah domestik, serta meminimalkan dampak lingkungan.
Tindak Lanjut dan Kolaborasi
FGD ini menjadi bagian dari proses konsultasi pemangku kepentingan untuk memvalidasi dan menyempurnakan rekomendasi kebijakan sebelum difinalisasi. Climateworks Centre dan PYC, bersama Kadin Indonesia Institute, akan melanjutkan kerja sama dalam pengembangan roadmap pengolahan mineral kritis dan industri baterai rendah karbon, termasuk penguatan kolaborasi internasional, khususnya dalam mendukung transisi energi bersih.
Melalui kebijakan yang terarah dan berkelanjutan, Indonesia memiliki peluang besar untuk tidak hanya menjadi pemasok nikel dunia, tetapi juga pemain utama dalam industri baterai global yang kompetitif, berdaya saing, dan bertanggung jawab secara lingkungan dan sosial.


