FGD “MBGNOMICS” Soroti Dampak Ekonomi Program MBG terhadap Pasar Pangan dan Dunia Usaha

FGD “MBGNOMICS” Soroti Dampak Ekonomi Program MBG terhadap Pasar Pangan dan Dunia Usaha

FGD “MBGNOMICS” Soroti Dampak Ekonomi Program MBG terhadap Pasar Pangan dan Dunia Usaha

FGD “MBGNOMICS” Soroti Dampak Ekonomi Program MBG terhadap Pasar Pangan dan Dunia Usaha

FGD “MBGNOMICS” Soroti Dampak Ekonomi Program MBG terhadap Pasar Pangan dan Dunia Usaha

FGD “MBGNOMICS” Soroti Dampak Ekonomi Program MBG terhadap Pasar Pangan dan Dunia Usaha

Jakarta, 13 Maret 2026 — Diskusi kelompok terarah (FGD) bertajuk “MBGNOMICS” menyoroti berbagai implikasi ekonomi dari implementasi program MBG terhadap pasar pangan nasional, rantai pasok, serta peluang bagi pelaku usaha dan UMKM. Diskusi ini mengangkat dinamika terbaru terkait peningkatan permintaan komoditas pangan, kesiapan industri, hingga tantangan operasional dalam pelaksanaan program tersebut.

FGD ini juga membahas bagaimana program MBG berpotensi menciptakan pasar baru (market creation) sekaligus mempengaruhi struktur produksi dan distribusi pangan di Indonesia.

Peserta FGD

FGD ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan dari pemerintah, dunia usaha, asosiasi, serta kalangan akademisi. Beberapa peserta yang hadir antara lain Wakil Ketua Umum KADIN Bidang Pertanian Devi Erna Rachmawati, Wakil Ketua Umum Bidang Peternakan M. Cevy Abdullah, serta Wakil Ketua Umum Bidang Kewirausahaan UMKM RM Tedy Aliudin.

Turut hadir pula Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo Adi, Kepala Satgas MBG KADIN Chandra Tirta Wijaya, serta Ketua GAPEMBI Alven Stony. Dari kalangan pelaku usaha hadir Agung Suryamal, pemilik Pasar Caringin Bandung yang mewakili pedagang menengah, serta Sabana Prawirawidjaya dari Ultrajaya Milk yang mewakili pelaku industri besar.

Sementara dari kalangan akademisi dan peneliti hadir Fithra Faisal Hastiadi (FEB UI), M. Fajar Rakhmadi (RISED), Arief Anshory Yusuf (DEN), serta M. Rizal Taufikurahman (INDEF).

MBG Mendorong Penciptaan Pasar Baru

Program MBG dinilai mulai menciptakan permintaan baru terhadap sejumlah komoditas pangan utama, seperti susu, telur, ayam, dan beras. Intervensi ekonomi dari program ini diperkirakan dapat mencapai Rp300–350 triliun per tahun, yang berpotensi mempengaruhi pola konsumsi rumah tangga serta distribusi kesejahteraan, khususnya bagi kelompok masyarakat berpendapatan menengah ke bawah.

Meski demikian, para peserta diskusi menekankan pentingnya membedakan pertumbuhan ekonomi yang benar-benar dihasilkan oleh program MBG dengan aktivitas ekonomi yang sebenarnya sudah terjadi sebelumnya.

Tantangan Industri Susu dalam Memenuhi Permintaan

Salah satu sektor yang paling terdampak oleh peningkatan permintaan adalah industri susu. Permintaan produk susu dalam kemasan kecil, terutama ukuran 115–125 ml, meningkat signifikan seiring kebutuhan program.

Kebutuhan susu untuk program MBG diperkirakan mencapai 6,3 miliar pack per tahun, sementara kapasitas produksi industri saat ini baru mencapai sekitar 2,1 miliar pack per tahun.

Selain keterbatasan kapasitas produksi dan pengemasan, sejumlah tantangan lain juga diidentifikasi, antara lain keterbatasan pasokan susu segar domestik, keterbatasan lahan peternakan sapi perah, serta kebutuhan integrasi antara peternakan dan fasilitas pengolahan susu. Standardisasi kualitas susu juga menjadi isu penting mengingat variasi kandungan lemak pada susu segar.

Upaya peningkatan populasi sapi perah juga masih menghadapi kendala. Dari rencana impor 200.000 ekor sapi perah, realisasi hingga saat ini baru mencapai sekitar 13.000 ekor.

Ekspansi Produksi Telur dan Ayam

Di sektor unggas, kebutuhan telur untuk program MBG diperkirakan mencapai 722 ribu ton, sementara produksi nasional pada tahun 2026 diperkirakan sekitar 470 ribu ton.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, pengembangan produksi diproyeksikan melibatkan sekitar 15.600 keluarga peternak melalui model kemitraan KDKMP yang fokus pada budidaya ayam petelur.

Sementara itu, untuk ayam pedaging, kebutuhan produksi diperkirakan mencapai sekitar 700 ribu ton, dengan potensi keterlibatan sekitar 40.000 peternak dan populasi sekitar 81 juta ekor ayam.

Penguatan Infrastruktur Pengolahan dan Logistik Pangan

Diskusi juga menyoroti pentingnya penguatan fasilitas mini processing untuk mendukung operasional dapur MBG atau SPPG. Konsep yang diusulkan berfokus pada penyediaan bahan pangan ready-to-cook, seperti bahan yang telah dipotong, dimarinasi, atau dikemas, bukan makanan siap saji.

Model mini processing dengan investasi di bawah Rp1 miliar dinilai berpotensi membuka peluang wirausaha baru sekaligus melayani kebutuhan 5 hingga 10 dapur SPPG secara bersamaan.

Namun demikian, penguatan rantai pasok juga membutuhkan perhatian terhadap beberapa aspek penting, seperti pengembangan cold chain dan cold storage, peningkatan efisiensi logistik pangan, serta digitalisasi sistem distribusi.

Isu Produksi Pertanian dari Hulu ke Hilir

Di sektor pertanian, diskusi juga menyoroti pentingnya penguatan produksi pangan dari hulu ke hilir. Meskipun Indonesia telah mencapai swasembada beras, terdapat kekhawatiran terkait tingginya kandungan nitrat akibat penggunaan pupuk kimia, sehingga muncul dorongan untuk memperluas penggunaan pupuk organik.

Secara keseluruhan, potensi kontribusi sektor pertanian terhadap program MBG diperkirakan dapat mencapai Rp180 triliun, dengan peluang pengembangan industrialisasi produk pangan seperti tempe, tahu, dan komoditas hortikultura.

Peluang dan Tantangan bagi UMKM

Program MBG juga diharapkan mampu mendorong keterlibatan UMKM dalam rantai pasok pangan secara menyeluruh. Target yang diharapkan adalah keterlibatan UMKM hingga 100% dalam berbagai tahapan rantai pasok.

Saat ini, sekitar 3,1% UMKM di Indonesia berhasil naik kelas, sementara target ideal diperkirakan sekitar 6%. Data juga menunjukkan sekitar 45% UMKM mengalami peningkatan omzet lebih dari 25%, yang menunjukkan potensi besar bagi UMKM untuk terintegrasi dalam ekosistem MBG.

Risiko Rantai Pasok dan Tantangan Operasional

FGD juga mengidentifikasi beberapa tantangan operasional dalam implementasi program MBG. Di sejumlah daerah, beberapa komoditas seperti pisang dan jeruk Medan dilaporkan mulai mengalami kelangkaan lokal akibat peningkatan permintaan.

Selain itu, di beberapa wilayah dapur MBG masih mengambil bahan pangan langsung dari pasar induk atau petani, alih-alih melalui sistem rantai pasok yang lebih terstruktur.

Isu lain yang juga disoroti meliputi standar penyimpanan bahan pangan, proses pencucian bahan, serta penerapan standar keamanan pangan.

Kebutuhan Pendekatan Analitis yang Komprehensif

Para peserta diskusi juga menekankan pentingnya pendekatan analisis yang komprehensif dalam mengevaluasi dampak program MBG. Analisis perlu dilakukan melalui triangulasi perspektif dari berbagai aktor, termasuk dapur SPPG, pemasok bahan baku, distributor logistik, serta petani dan peternak.

Beberapa isu riset yang dinilai penting untuk dikaji lebih lanjut meliputi stagnasi produktivitas pertanian, ketergantungan tinggi pada komoditas beras, tingginya biaya logistik pangan, serta potensi crowding out terhadap UMKM yang telah beroperasi sebelumnya.

Selain itu, analisis dampak ekonomi juga perlu mempertimbangkan counterfactual scenario, yaitu bagaimana kondisi ekonomi yang mungkin terjadi jika program MBG tidak dijalankan.

Tentang kami

Contact

support@kadininstitute.id

Menara Kadin Indonesia, Jl. H.R. Rasuna Said, Blok X-5 Kav. 2-3, Jakarta 12950

© 2025 Kadin Indonesia Institute