Jakarta, 18 November 2025 – Dalam rangka mendukung perkembangan industri otomotif nasional, Kadin Institute kembali menghadirkan sesi Executive Brief edisi November 2025 yang menghadirkan Patrick Ziechmann, Partner Deals sekaligus Pemimpin Automotive ASEAN di PwC, untuk membahas transformasi digital dalam industri otomotif ASEAN serta implikasinya bagi pelaku usaha di Indonesia.
Acara ini menekankan pentingnya pemahaman mendalam tentang tren digital, strategi aliansi, tantangan regulasi, dan efisiensi modal sebagai fondasi strategi bisnis otomotif di era disrupsi.
EV, Mobilitas Terhubung, dan Kompetisi Baru Mengubah Arah Industri

Transformasi otomotif ASEAN semakin jelas diarahkan oleh pertumbuhan EV, integrasi digital, dan kebutuhan konsumen terhadap layanan mobilitas yang lebih cerdas. Konsumen kini mempertimbangkan biaya operasional jangka panjang, waktu pengisian daya, hingga kemampuan kendaraan terhubung dengan aplikasi. Patrick juga menyoroti munculnya model bisnis baru seperti layanan berlangganan kendaraan dan digital aftersales, yang mengubah cara OEM berinteraksi dengan pelanggan. Di tengah perubahan ini, masuknya pemain Tiongkok dengan strategi EV agresif—seperti BYD yang meraih 41% pangsa pasar EV Indonesia pada 1H 2025—menjadi penantang serius bagi dominasi Jepang. Perusahaan Indonesia harus menyiapkan strategi produk, pemasaran, serta portofolio investasi yang lebih agile untuk tetap kompetitif.
Kolaborasi Regional, Navigasi Regulasi, dan Efisiensi Modal Menjadi Penentu Keberhasilan

Patrick menekankan bahwa disrupsi otomotif tidak bisa dihadapi sendirian. Aliansi dengan pemasok, distributor, maupun mitra teknologi—serta kolaborasi lintas negara ASEAN—semakin penting untuk mendapatkan skala ekonomi, memperluas pasar, dan mempercepat transfer teknologi. Namun keberhasilan transformasi juga sangat ditentukan oleh kemampuan perusahaan memahami landscape regulasi yang beragam di ASEAN. Insentif EV di Indonesia seperti pembebasan PPnBM dan dukungan investasi baterai membuka peluang besar, tetapi tetap membutuhkan strategi perizinan, kepatuhan pajak, dan mitigasi risiko yang tepat. Di sisi lain, tingginya kebutuhan modal membuat perusahaan harus mengelola investasi dengan cermat: memprioritaskan proyek bernilai jangka panjang, menata ulang struktur pembiayaan, dan menjaga efisiensi kas di tengah fluktuasi permintaan.
Gambaran ASEAN-6: Stabil, Namun Elektrifikasi Melesat
Meskipun pasar otomotif ASEAN-6 relatif stabil, elektrifikasi tumbuh signifikan dengan penjualan xEV meningkat 63% pada 1H 2025. Thailand, Filipina, dan Vietnam mencatat pertumbuhan kuat, sementara Indonesia menghadapi penurunan pasar kendaraan ringan akibat tekanan ekonomi dan perubahan preferensi konsumen. Namun tren ini justru menunjukkan arah masa depan industri yang semakin jelas menuju mobilitas rendah karbon, di mana konsumen tidak lagi membeli kendaraan semata-mata sebagai alat transportasi, tetapi sebagai bagian dari ekosistem digital yang lebih luas.
EV Indonesia dan Pasar Roda Dua: Dua Dinamika yang Berbeda
Pertumbuhan EV roda empat di Indonesia terlihat kuat, tetapi pasar roda dua bergerak lebih lambat. Honda dan Yamaha masih menguasai 96% pangsa pasar motor, sementara adopsi motor listrik terhambat oleh kebiasaan konsumen, persepsi durabilitas, dan keterbatasan infrastruktur. Meski begitu, pemain lokal dan global mulai mendorong inovasi serta penurunan harga yang dapat mempercepat adopsi dalam beberapa tahun mendatang.
Perubahan Preferensi Konsumen Indonesia Membuka Peluang Besar
Survei PwC menunjukkan konsumen Indonesia semakin terbuka terhadap EV, terutama karena biaya operasional lebih rendah dan kemudahan pengisian daya di rumah atau kantor. Sebanyak 83% konsumen Indonesia juga bersedia membeli EV bekas—angka yang lebih tinggi dibanding banyak negara ASEAN lain. Fleksibilitas ini memberi sinyal kuat bahwa Indonesia berpotensi menjadi pasar EV terbesar dalam tiga hingga lima tahun ke depan jika ekosistem terus berkembang.
PwC ASEAN Automotive CoE Sebagai Mitra Transformasi Industri
PwC melalui Automotive Centre of Excellence menyediakan dukungan komprehensif bagi perusahaan otomotif—dari strategi pertumbuhan, optimalisasi rantai pasok, konsultasi ESG, hingga implementasi teknologi. Dengan jaringan regional yang kuat dan analisis berbasis data, CoE menjadi mitra strategis bagi perusahaan yang ingin membuat keputusan cepat dan tepat di tengah transformasi teknologi yang terus berkembang.
Indonesia Menuju Ekosistem EV Kompetitif 2030
Patrick memproyeksikan Indonesia memiliki peluang besar menjadi pusat pertumbuhan EV di ASEAN jika dapat menyeimbangkan kebijakan yang konsisten, kesiapan industri lokal, dan percepatan investasi baterai. Dengan basis pasar yang besar, minat konsumen yang meningkat, dan masuknya pemain global, Indonesia berpotensi membangun ekosistem EV paling dinamis di Asia dalam dekade mendatang.


