WEEKLY UPDATE

KII GEOPOLITICAL PULSE

Edisi XIV – Perang Iran dan Dunia Usaha Indonesia: Dari Shock Global ke Strategi Nasional

7-1-300x300

Editor: Fahrul Fulvian

Fahrul Fulvian adalah Direktur Insight Kadin Institute dan Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas, ahli ekonomi finansial dan pasar modal.

Perang yang Terasa Jauh, Tetapi Mengguncang Ekonomi Dunia

Pada peta dunia, Iran terlihat jauh dari Indonesia. Namun dalam ekonomi global yang saling terhubung, jarak geografis sering kali hanyalah ilusi.

Di antara Teluk Persia dan Laut Arab terdapat Selat Hormuz, salah satu urat nadi perdagangan energi dunia. Setiap hari sekitar 20% pasokan minyak global melewati jalur sempit ini. Tanker-tanker raksasa yang melintas di sana bukan sekadar kapal pengangkut energi, melainkan bagian dari sistem sirkulasi yang menjaga mesin ekonomi global tetap hidup.

Karena itu, ketika konflik militer terjadi di kawasan ini, dampaknya tidak berhenti di Timur Tengah. Ia merambat ke pasar energi, jalur pelayaran global, harga pupuk dan pangan, hingga akhirnya mempengaruhi dapur rumah tangga di berbagai negara.

Sejarah menunjukkan bahwa konflik di kawasan ini hampir selalu diikuti lonjakan harga energi dan meningkatnya ketidakpastian global. Perang Iran bukan sekadar peristiwa geopolitik; ia adalah shock ekonomi global.

Dalam beberapa hari saja, pasar biasanya bereaksi melalui kenaikan harga minyak, peningkatan premi asuransi kapal tanker, serta pergeseran arus modal menuju aset yang dianggap lebih aman.

Bagi negara berkembang seperti Indonesia, shock tersebut biasanya datang melalui tiga jalur utama: kenaikan harga energi, gangguan logistik global, dan tekanan inflasi.

Tiga Gelombang Shock Global

Konflik Iran berpotensi memicu tiga gelombang shock utama bagi ekonomi dunia: Energy Shock, Shipping Shock, Food Shock.

Yang pertama energy shock. Pasar energi global sangat sensitif terhadap ketegangan di Timur Tengah. Jika konflik mengganggu jalur perdagangan di Selat Hormuz, harga minyak dapat melonjak tajam.

Bagi Indonesia, dampaknya tidak kecil. Saat ini Indonesia mengimpor sekitar 700–800 ribu barrel minyak per hari, dengan nilai impor energi yang dalam beberapa tahun terakhir mencapai sekitar USD 30–35 miliar per tahun. Setiap kenaikan harga minyak global secara langsung meningkatkan biaya impor energi dan memperbesar tekanan pada neraca perdagangan serta anggaran subsidi energi.

Yang kedua Shipping Shock. Konflik di kawasan Teluk juga meningkatkan risiko pelayaran internasional. Dalam berbagai konflik sebelumnya, premi asuransi kapal tanker dapat melonjak dua hingga tiga kali lipat, sementara jalur pelayaran harus memutar untuk menghindari kawasan berisiko tinggi.

Kenaikan biaya logistik global dapat meningkatkan biaya impor bahan baku dan memperlambat arus perdagangan internasional. Dalam ekonomi modern yang sangat bergantung pada rantai pasok global, gangguan logistik sering kali menyebar jauh melampaui kawasan konflik itu sendiri.

Yang Ketiga Food Shock. Energi dan pangan memiliki hubungan yang sangat erat. Harga gas mempengaruhi harga pupuk, sementara biaya logistik mempengaruhi distribusi pangan lintas negara. Jika harga energi melonjak dan distribusi terganggu, tekanan terhadap harga pangan global biasanya muncul beberapa bulan kemudian.

Bagi negara berkembang, termasuk Indonesia, shock pangan sering menjadi risiko yang paling sensitif karena langsung mempengaruhi daya beli masyarakat.

Dampaknya bagi Indonesia

Sebagai ekonomi terbuka, Indonesia tidak berada di pusat konflik tetapi tetap terpapar dampaknya melalui beberapa jalur utama:

Energi – Indonesia kini menjadi importir bersih minyak. Ketika harga minyak global naik, biaya impor energi meningkat dan dapat memperlebar defisit neraca perdagangan energi.

Nilai Tukar dan Pasar Keuangan – Ketidakpastian global biasanya memicu arus modal menuju aset aman seperti obligasi pemerintah Amerika Serikat. Dalam situasi seperti ini, mata uang negara emerging markets sering menghadapi tekanan.

Inflasi Domestik – Kenaikan harga energi dan logistik biasanya merambat ke biaya produksi dan harga barang.

Dunia Usaha – Sektor transportasi, manufaktur berbasis impor, pertanian, dan industri intensif energi menjadi yang paling sensitif terhadap shock semacam ini.

Dunia yang Sedang Berubah

Konflik Iran juga mencerminkan perubahan yang lebih besar dalam ekonomi global. Selama tiga dekade terakhir, globalisasi didorong oleh efisiensi. Produksi ditempatkan di lokasi termurah dan rantai pasok dirancang seefisien mungkin.

Namun berbagai krisis global dalam beberapa tahun terakhir — pandemi, perang Ukraina, hingga rivalitas geopolitik — menunjukkan bahwa sistem global yang terlalu bertumpu pada efisiensi juga memiliki kerentanan.

Kini dunia semakin bergerak menuju era geoekonomi, di mana perdagangan, energi, dan teknologi menjadi bagian dari strategi geopolitik negara. Dalam dunia seperti ini, efisiensi tidak lagi cukup. Ketahanan ekonomi menjadi sama pentingnya.

Apa yang Perlu Dilakukan Pemerintah

Bagi Indonesia, situasi ini menuntut kebijakan yang tidak hanya reaktif tetapi juga strategis.

Pertama, memperkuat ketahanan energi, melalui diversifikasi sumber energi, penguatan cadangan strategis, dan kerja sama energi jangka panjang.
Kedua, menjaga stabilitas fiskal, terutama dalam mengelola dampak kenaikan harga energi terhadap subsidi dan anggaran negara.
Ketiga, memperkuat koordinasi stabilitas keuangan, agar volatilitas global tidak mengganggu stabilitas nilai tukar dan sistem keuangan domestik.
Keempat, menguatkan diplomasi ekonomi, termasuk kerja sama energi dan perdagangan dengan berbagai mitra internasional.

Apa yang Perlu Dilakukan Dunia Usaha

Bagi dunia usaha, risiko geopolitik kini menjadi bagian permanen dari lanskap bisnis global. Perusahaan perlu: Memperkuat manajemen risiko energi dan nilai tukar serta strategi lindung nilai. Membangun rantai pasok yang lebih tangguh. Meningkatkan efisiensi energi untuk menjaga daya saing. Selain itu, perusahaan perlu mengembangkan scenario planning, dengan mempertimbangkan kemungkinan konflik terbatas, konflik regional, maupun eskalasi yang lebih luas. Ketahanan bisnis menjadi semakin penting dalam dunia yang semakin volatil.

Penutup: Ketahanan di Tengah Dunia yang Tidak Stabil

Konflik Iran mungkin hanya satu episode dalam dinamika geopolitik global. Namun ia mengingatkan bahwa ekonomi dunia kini semakin bergerak di bawah bayang-bayang ketidakpastian.

Dalam dunia seperti ini, keunggulan sebuah negara tidak lagi hanya ditentukan oleh seberapa cepat ia tumbuh, tetapi oleh seberapa kuat ia bertahan menghadapi shock global.

Bagi Indonesia, tantangannya bukan sekadar merespons satu konflik tertentu. Tantangan yang lebih besar adalah memastikan bahwa ekonomi nasional cukup tangguh untuk menghadapi dunia yang semakin tidak stabil.

Karena pada akhirnya, dalam ekonomi global yang penuh gejolak, negara yang mampu bertahan bukanlah yang paling cepat berlari, melainkan yang paling siap menghadapi badai.

Dapatkan Artikelnya!

Bagikan:

Bacaan lainnya!

Tentang kami

Contact

support@kadininstitute.id

Menara Kadin Indonesia, Jl. H.R. Rasuna Said, Blok X-5 Kav. 2-3, Jakarta 12950

© 2025 Kadin Indonesia Institute