Ekonomi RI Tumbuh 5,61% pada Kuartal I-2026, Tertinggi Lebih dari Satu Dekade
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 tercatat sebesar 5,61% (year-on-year), menjadi yang tertinggi dalam lebih dari satu dekade sejak 2014 serta melampaui proyeksi pasar. Pencapaian ini terutama didorong oleh kuatnya konsumsi rumah tangga yang tetap menjadi penopang utama perekonomian. Selain itu, peningkatan aktivitas ekonomi pada awal tahun turut berkontribusi terhadap akselerasi pertumbuhan dibandingkan kuartal sebelumnya. Kinerja ini mencerminkan ketahanan ekonomi domestik di tengah ketidakpastian global serta memberikan sinyal positif terhadap prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan. (Kontan.co.id)
Dunia Usaha Sambut Aturan Baru Restitusi Pajak, Tapi Khawatir Cash Flow Terganggu
Dunia usaha menyambut positif rencana aturan baru restitusi pajak karena dinilai dapat meningkatkan kepastian hukum dan memperjelas prosedur. Namun, pelaku usaha mengkhawatirkan kebijakan tersebut berpotensi mengganggu arus kas (cash flow), terutama jika terjadi penundaan atau pembatasan pencairan restitusi. Mereka menegaskan bahwa restitusi merupakan hak wajib pajak yang harus dikembalikan tepat waktu. Ketidakpastian kebijakan dinilai dapat berdampak pada likuiditas perusahaan, menurunkan kepercayaan, serta berisiko mengganggu iklim investasi dan keberlanjutan usaha. (Kontan.co.id)
Inflasi April 2026 Melandai, Ancaman Bergeser ke Energi dan Biaya Produksi
Inflasi April 2026 tercatat melandai menjadi 0,13% (bulanan) dan 2,42% (tahunan), mencerminkan normalisasi harga pasca-Ramadan dan Idulfitri, terutama dari penurunan harga pangan dan emas. Namun, risiko inflasi ke depan bergeser dari sektor pangan ke tekanan biaya energi, pelemahan rupiah, serta kenaikan biaya produksi. Kenaikan BBM nonsubsidi belum berdampak signifikan, tetapi berpotensi meningkatkan biaya distribusi dan produksi secara bertahap. Indikasi tekanan produsen terlihat dari kenaikan biaya input industri. Inflasi diperkirakan tetap terkendali dalam jangka pendek, meski risiko eksternal masih membayangi. (Kontan.co.id)
Neraca Dagang Surplus 71 Bulan Berturut, Kualitas Ekspor Dinilai Meragukan
Neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus selama 71 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Pada periode maret surplus mencapai US$ 3,32 miliar, mencerminkan kinerja eksternal yang stabil. Namun, ekonom Bank Permata, Josua Pardede menilai kualitas ekspor masih lemah karena didominasi komoditas bernilai tambah rendah, seperti produk berbasis sumber daya alam. Ketergantungan ini menimbulkan keraguan terhadap keberlanjutan surplus. Oleh karena itu, diperlukan penguatan hilirisasi dan diversifikasi ekspor guna meningkatkan nilai tambah serta daya saing jangka panjang. (Kontan.co.id)
Industri Pengolahan Nikel Hingga Semikonduktor Jadi Pendorong Ekspor Kuartal I-2026
Industri pengolahan menjadi penopang utama ekspor Indonesia pada kuartal I-2026, terutama dari komoditas nikel, produk kimia, minyak kelapa sawit, serta semikonduktor dan komponen elektronik. Nilai ekspor sektor ini mencapai US$54,93 miliar atau tumbuh 3,96% secara tahunan. Secara keseluruhan, ekspor nasional naik tipis 0,34% menjadi US$66,85 miliar. Kinerja tersebut mampu mengimbangi penurunan signifikan pada sektor pertanian serta pertambangan. Meski demikian, pada Maret 2026 terjadi kontraksi ekspor tahunan akibat melemahnya beberapa komoditas nonmigas seperti minyak nabati, kakao, serta kopi dan rempah-rempah. (Kontan.co.id)
China Jadi Penyumbang Defisit Terbesar Indonesia, Disusul Australia dan Prancis
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada kuartal I-2026, defisit perdagangan terbesar Indonesia berasal dari China sebesar US$5,18 miliar, terutama akibat impor mesin, peralatan listrik, dan kendaraan. Australia dan Prancis menyusul sebagai penyumbang defisit, masing-masing dipicu impor logam mulia, sereal, bahan bakar, serta produk pesawat dan farmasi. Meski demikian, secara keseluruhan Indonesia masih mencatat surplus perdagangan, dengan ekspor tumbuh 0,34% dan impor meningkat 10,05% secara tahunan. (Kontan.co.id)
Jakarta Siap Ubah Sampah Jadi Energi, Investasi Tembus US$ 1 Miliar
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama Danantara menyiapkan proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) dengan nilai investasi sekitar US$1 miliar. Proyek ini ditujukan untuk mengatasi volume sampah harian yang mencapai 8.000–9.000 ton serta kondisi kritis TPST Bantargebang. Fasilitas tersebut dirancang mampu mengolah sampah tanpa pemilahan awal dan berpotensi meningkatkan kapasitas guna mengurangi timbunan lama. Proyek juga menjadi bagian percepatan penanganan darurat sampah dan ditargetkan mulai beroperasi dalam beberapa tahun ke depan. (Kontan.co.id)
Hingga Awal Mei 2026, Realisasi Penyaluran KUR Tembus Rp 96 Triliun
Realisasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) hingga 3 Mei 2026 mencapai Rp96 triliun dari target Rp320 triliun tahun ini. Penyaluran tersebut menjangkau sekitar 1,5 juta debitur, dengan 63% dialokasikan ke sektor produksi. Sekitar Rp70 triliun disalurkan ke sektor mikro, khususnya kelompok masyarakat desil bawah, guna mendukung pengentasan kemiskinan ekstrem. Pemerintah memprioritaskan sektor mikro untuk mendorong transformasi pekerja informal menjadi formal. Selain pembiayaan, pemerintah juga menekankan pentingnya dukungan akses pasar agar UMKM dapat berkembang optimal dan berkelanjutan. (Kontan.co.id)
Purbaya Siapkan Pungutan Bea Keluar dan Windfall Tax Nikel, Ini Tujuannya
Pemerintah melalui Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyiapkan kebijakan bea keluar dan windfall tax untuk komoditas nikel. Kebijakan ini bertujuan menambah penerimaan negara guna menutup lonjakan subsidi energi dalam APBN. Selain itu, bea keluar juga berfungsi sebagai instrumen pengawasan untuk mencegah praktik under-invoicing dan ekspor ilegal, dengan memberi kewenangan pemeriksaan sebelum ekspor. Kebijakan masih dalam tahap perumusan bersama Kementerian ESDM, sekaligus mendukung hilirisasi nikel dan pengembangan industri baterai kendaraan listrik. (Kontan.co.id)
Temui Menperin, Purbaya Siapkan Insentif untuk Mobil dan Motor Listrik
Pemerintah tengah mematangkan rencana pemberian insentif bagi kendaraan listrik berbasis baterai, baik mobil maupun motor. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akan berkoordinasi dengan Menteri Perindustrian untuk menyinkronkan kebijakan dan mempercepat finalisasi skema insentif. Kebijakan ini ditujukan guna mendorong daya beli masyarakat seiring meningkatnya permintaan kendaraan listrik. Implementasi insentif ditargetkan segera berjalan dalam beberapa pekan. Namun, pemerintah masih mempertimbangkan dampak fiskal, termasuk potensi penurunan penerimaan negara dan risiko pelebaran defisit APBN sebelum kebijakan ditetapkan. (Kontan.co.id)