NEWS UPDATE

Inflasi Melonjak ke Level Tertinggi 3 Tahun, Tekanan Harga Membayangi Ekonomi

Inflasi Indonesia pada Februari 2026 naik ke level tertinggi dalam tiga tahun terakhir, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS). Angka inflasi tahunan meningkat signifikan dibanding periode sama tahun sebelumnya, mencerminkan tekanan harga yang membayangi perekonomian. Kenaikan ini didorong oleh lonjakan harga di sejumlah komoditas, termasuk kebutuhan pokok dan energi. Situasi tersebut menimbulkan kekhawatiran akan penurunan daya beli masyarakat dan tekanan terhadap stabilitas ekonomi. Kebijakan pengendalian harga menjadi fokus penting untuk meredam dampak lanjutan terhadap ekonomi domestik. (Kontan.co.id)

Image Source: kontan.co.id

Pemerintah Antisipasi Gangguan Pasokan Minyak Global Akibat Konflik Iran-Israel

Pemerintah Indonesia mengantisipasi potensi gangguan pasokan minyak global akibat eskalasi konflik geopolitik antara Iran dan Israel yang juga melibatkan AS. Konflik ini mengganggu jalur distribusi energi strategis seperti Selat Hormuz dan Laut Merah, mendorong harga minyak mentah dunia menyentuh sekitar US$82 per barel. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian menyatakan pemerintah tengah memantau situasi dan telah menyiapkan sumber pasokan alternatif dari luar Timur Tengah melalui nota kesepahaman Pertamina dengan perusahaan energi non-Timteng untuk menjaga kestabilan pasokan. (Kontan.co.id)

Konflik Geopolitik Iran dengan Israel-AS Berpotensi Tekan Pertumbuhan Ekonomi RI

Konflik geopolitik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi Indonesia di bawah target APBN 2026 sebesar 5,4%. Hendri Saparini, Ekonom Senior Center of Reform on Economics (CORE), mengatakan proyeksi pertumbuhan sudah sekitar 4,9% sebelum eskalasi konflik dan ketidakpastian global bisa menurunkannya lagi jika tidak ada respons kebijakan yang kuat. Dampaknya terutama melalui kenaikan harga energi dan komoditas yang dapat memperlambat konsumsi, investasi, serta memperburuk tekanan inflasi domestik. (Kontan.co.id)

BI Komitmen Jaga Stabilitas Harga Pangan pada Ramadan dan Idul Fitri 2026

Bank Indonesia menegaskan komitmennya menjaga stabilitas harga pangan selama Ramadan dan Idul Fitri 2026. Lonjakan permintaan pangan diperkirakan terjadi di periode ini, namun BI memastikan inflasi volatile food tetap terkendali lewat koordinasi dengan Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan pemantauan pasar. Upaya ini termasuk menjaga pasokan, memonitor harga, serta sinergi dengan pemerintah dan pemangku kebijakan untuk memastikan ketersediaan pangan dan stabilitas harga di tingkat konsumen jelang perayaan. (Kontan.co.id)

Zulhas Pastikan Impor Beras 1.000 Ton dari AS hanya Untuk Beras Khusus

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) memastikan impor 1.000 ton beras dari Amerika Serikat bukan untuk konsumsi umum, melainkan beras khusus — seperti varietas premium atau untuk kebutuhan tertentu (mis. restoran Jepang atau penderita diabetes). Impor ini bagian dari perjanjian dagang antara Indonesia dan AS, dan tidak akan menggantikan beras konsumsi masyarakat. Pemerintah menegaskan pasokan beras nasional tetap aman, serta kebijakan ini tidak mengurangi fokus pada stabilitas pangan menjelang Ramadan dan Lebaran. (Kontan.co.id)

Harga Minyak Berpotensi Melonjak, Defisit APBN 2026 Terancam Bengkak

Harga minyak dunia diprediksi melonjak tajam akibat eskalasi konflik di Timur Tengah, berpotensi mencapai US$ 90–100 per barel jauh di atas asumsi APBN 2026 sebesar US$ 70. Lonjakan ini bisa meningkatkan penerimaan negara, tetapi belanja, terutama subsidi dan kompensasi energi, diperkirakan naik jauh lebih besar. Simulasi menunjukkan jika harga minyak US$ 90 per barel, belanja naik hingga Rp 309 triliun dan defisit APBN melebar sekitar Rp 136 triliun; jika menyentuh US$ 100, defisit bertambah sekitar Rp 204 triliun, memperbesar risiko pembengkakan defisit negara. (Kontan.co.id)

BPS: Produk Industri Pengolahan Menjadi Bantalan Ekspor Nonmigas tetap Tumbuh

BPS melaporkan bahwa sektor industri pengolahan menjadi penopang utama pertumbuhan ekspor non-migas Indonesia pada Januari 2026. Ekspor non-migas tumbuh positif, didorong kenaikan 8,19% dari produk industri pengolahan seperti olahan minyak sawit, nikel, besi & baja, semikonduktor, dan kendaraan bermotor. Hal ini membantu ekspor non-migas tetap tumbuh meski komoditas lain melemah. Laporan menunjukkan bahwa industri pengolahan berperan penting dalam mendukung kinerja perdagangan di awal tahun. (Kontan.co.id)

Stimulus Fiskal dan Konsumsi Dorong PMI Manufaktur ke Zona Ekspansi Kuat

Indeks PMI Manufaktur Indonesia pada Februari 2026 naik ke 53,8, tertinggi dalam hampir dua tahun, menunjukkan ekspansi kuat aktivitas industri. Peningkatan ini terutama didorong oleh lonjakan permintaan baru dan produksi. Pemerintah melalui Kemenkeu menyatakan stimulus fiskal, iklim investasi, dan penciptaan lapangan kerja memperkuat ketahanan ekonomi domestik serta optimisme pelaku usaha. Permintaan domestik yang meningkat juga tercermin dari pertumbuhan penjualan barang konsumsi dan kendaraan. Outlook sektor tetap positif, didukung oleh PMI ekspansif di mitra dagang utama Indonesia. (Kontan.co.id)

Konflik AS Israel-Iran Memanas, Mendag Dorong Penguatan Pasar Domestik

Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang memanas memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global dan kenaikan harga minyak, berpotensi menghambat perdagangan Indonesia serta menekan pasar keuangan domestik. Pemerintah Indonesia, termasuk Menteri Perdagangan, mendorong penguatan pasar dalam negeri dan menyiapkan langkah-langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas konsumsi serta daya beli masyarakat di tengah gejolak global tersebut. Selain itu, pemerintah juga mendorong pelaku usaha memperluas pasar lokal guna mengurangi ketergantungan terhadap dinamika perdagangan internasional. (Kontan.co.id)

Tarif Ekspor RI ke AS Jadi 15%, Peluang Terbuka Namun Risiko Tetap Ada

Pemerintah Indonesia menyatakan tarif ekspor dari RI ke Amerika Serikat kini menjadi 15% dari sebelumnya 19% setelah Mahkamah Agung AS membatalkan kebijakan tarif global yang diinisiasi Presiden Trump. Penurunan tarif ini membuka peluang lebih besar bagi produk Indonesia untuk meningkatkan ekspor ke pasar AS, terutama bagi ribuan pos tarif yang dalam perjanjian perdagangan dua negara masih menikmati tarif 0% untuk beberapa komoditas unggulan. Namun, sejumlah risiko tetap ada terkait dinamika pasar, kompetisi global, dan efektivitas akses pasar di tengah perubahan kebijakan dagang tersebut. (Kontan.co.id)

Tentang kami

Contact

support@kadininstitute.id

Menara Kadin Indonesia, Jl. H.R. Rasuna Said, Blok X-5 Kav. 2-3, Jakarta 12950

© 2025 Kadin Indonesia Institute