NEWS UPDATE

Inflasi Tembus Target BI, Bisa Naik Lagi Jika Konflik Geopolitik Berkepanjangan

Inflasi Indonesia berpotensi kembali meningkat dan melampaui target Bank Indonesia jika konflik geopolitik global berlangsung lama. Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Brian Lee Shun Rong, menyebut lonjakan inflasi terbaru juga dipengaruhi efek basis dari berakhirnya diskon tarif listrik tahun sebelumnya. Selain itu, eskalasi konflik global dapat mendorong kenaikan harga energi dan biaya logistik, yang akhirnya meningkatkan tekanan inflasi domestik. Jika tekanan tersebut berlanjut, inflasi berisiko tetap tinggi dan menantang upaya otoritas moneter menjaga stabilitas harga di dalam negeri. (Kontan.co.id)

Memperkuat Ekosistem UMKM Lewat Festival Jejak Jajanan Nusantara

Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat menggelar Festival Jejak Jajanan Nusantara pada 6–8 Maret 2026 di kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta. Acara ini bertujuan memperkuat ekosistem UMKM dengan membuka akses pasar dan meningkatkan kapasitas pelaku usaha. Lebih dari 40 UMKM terkurasi akan menampilkan berbagai jajanan khas Nusantara. Festival ini juga menghadirkan Klinik UMKM dan Klinik Hak Kekayaan Intelektual untuk memberikan pendampingan, konsultasi, serta perlindungan merek dan inovasi. Melalui kegiatan ini, pemerintah berharap UMKM dapat berkembang, memiliki legalitas usaha yang kuat, dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas. (Kontan.co.id)

Konflik AS–Iran Berpotensi Ganggu Energi, Pemerintah Alihkan Sumber Impor Minyak

Pemerintah Indonesia mengantisipasi potensi gangguan pasokan energi akibat konflik antara AS, Iran, dan sekutunya di Timur Tengah. Konflik tersebut dapat mengganggu jalur distribusi minyak global, terutama di Selat Hormuz dan Laut Merah, serta mendorong kenaikan harga minyak dunia. Untuk mengurangi risiko, pemerintah melalui Pertamina mulai mengalihkan sebagian sumber impor minyak mentah ke negara di luar Timur Tengah, seperti Amerika Serikat, serta menjalin kerja sama dengan perusahaan energi global seperti Chevron dan ExxonMobil. Langkah ini dilakukan untuk menjaga stabilitas pasokan energi nasional dan mengurangi ketergantungan pada kawasan yang terdampak konflik. (Kontan.co.id)

Cak Imin: Jumlah Kelas Menengah Turun Karena Tekanan Biaya Hidup

Muhaimin Iskandar (Cak Imin) menyatakan jumlah kelas menengah Indonesia menurun akibat tekanan biaya hidup yang semakin tinggi. Kenaikan berbagai kebutuhan membuat daya beli kelompok ini melemah dan sebagian berisiko turun ke kelompok ekonomi yang lebih rentan. Ia menilai kondisi ini menunjukkan bahwa guncangan ekonomi dapat dengan mudah mendorong masyarakat menuju kemiskinan jika tidak ada perlindungan yang memadai. Karena itu, pemerintah perlu memperkuat kebijakan yang melindungi kelas menengah serta menjaga stabilitas biaya hidup agar daya tahan ekonomi masyarakat tetap terjaga. (Kontan.co.id)

Fitch Pangkas Outlook Jadi Negatif, Kemenkeu: Fundamental Ekonomi Tetap Kuat

Lembaga pemeringkat Fitch Ratings menurunkan outlook (prospek) utang Indonesia dari stabil menjadi negatif, tetapi tetap mempertahankan peringkat kredit di level BBB (investment grade). Pemerintah melalui Kementerian Keuangan menegaskan bahwa keputusan ini tidak mencerminkan pelemahan fundamental ekonomi Indonesia. Fundamental dinilai tetap kuat, ditopang pertumbuhan ekonomi yang solid, inflasi terkendali, serta rasio utang pemerintah yang relatif rendah. Pemerintah juga menyatakan akan terus menjaga disiplin fiskal, memperbaiki iklim investasi, dan melanjutkan reformasi struktural guna menjaga stabilitas ekonomi dan kepercayaan investor. (Kontan.co.id)

Harga Minyak Melambung, Pemerintah Diminta Geser Alokasi MBG untuk Subsidi Energi

Lonjakan harga minyak dunia akibat konflik geopolitik berpotensi menekan APBN Indonesia melalui peningkatan subsidi energi. Ekonom dari Celios, Bhima Yudhistira, menyarankan pemerintah merevisi APBN 2026 dengan mengalihkan sebagian anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk memperkuat subsidi energi. Menurutnya, kenaikan harga energi dan pangan dapat memicu inflasi impor yang menekan daya beli masyarakat. Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak sangat rentan terhadap gejolak harga global. Karena itu, pemerintah juga didorong mempercepat pengembangan energi baru terbarukan untuk mengurangi ketergantungan pada minyak impor dan menjaga stabilitas fiskal. (Kontan.co.id)

Usai Tembus Arab Saudi, Mentan Bidik Ekspor Beras ke Malaysia dan Filipina

Pemerintah Indonesia mulai mengekspor beras ke Arab Saudi sebanyak sekitar 2.280 ton dengan nilai sekitar Rp38 miliar. Ekspor ini ditujukan terutama untuk memenuhi kebutuhan beras jamaah haji Indonesia di Arab Saudi. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan langkah ini menjadi tonggak baru karena produksi dan stok beras nasional dinilai aman, mencapai sekitar 3,7 juta ton. Setelah menembus pasar Arab Saudi, pemerintah juga menargetkan perluasan ekspor beras ke beberapa negara lain, terutama Malaysia dan Filipina, serta Papua Nugini, guna memperluas pasar dan memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen beras di pasar internasional. (Kontan.co.id)

Investor Waspada! Tensi Geopolitik Ancam Arus Modal Keluar

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik Iran dengan Israel dan Amerika Serikat, berpotensi memicu arus modal keluar dari pasar keuangan Indonesia karena investor global cenderung menghindari aset berisiko. Ekonom Global Markets Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menilai kondisi ini dapat meningkatkan volatilitas pasar, menekan rupiah, dan memicu pelemahan pasar saham domestik. Meski demikian, fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih relatif kuat. Namun, investor dan pemerintah tetap perlu mewaspadai ketidakpastian global karena eskalasi konflik dapat memperbesar risiko pembalikan arus modal dari negara berkembang seperti Indonesia. (Kontan.co.id)

PERHAPI Susun Standar ESG Nikel Berbasis Internasional

Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI) tengah menyusun standar environmental, social, and governance (ESG) untuk industri nikel Indonesia yang mengacu pada praktik internasional. Standar ini dibuat agar produk nikel nasional lebih diterima di pasar global yang semakin menuntut praktik pertambangan berkelanjutan. Penyusunan dimulai sejak 2025 dan terdiri dari 33 bab yang mencakup aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola. Referensinya antara lain standar global seperti Responsible Minerals Initiative, ICMM, dan IRMA. Setelah draf selesai, PERHAPI akan melakukan konsultasi publik dengan pemerintah, akademisi, pelaku industri, dan pemangku kepentingan lain sebelum standar tersebut diterapkan. (Investor.id)

Dunia Mulai Khawatir Perang Iran vs AS-Israel Memicu Krisis Pangan

Konflik Iran melawan AS–Israel memicu kekhawatiran krisis pangan global karena potensi penutupan Selat Hormuz, jalur penting pengiriman pupuk dunia. Gangguan logistik di wilayah ini bisa menghentikan hingga sepertiga pasokan pupuk global dan memicu lonjakan harga pupuk seperti urea. Kondisi ini terjadi saat musim tanam di belahan bumi utara, sehingga petani menghadapi dilema antara membeli pupuk mahal atau mengurangi pemakaian yang berisiko menurunkan hasil panen. Jika konflik berkepanjangan, produksi pangan global dapat terganggu dan harga berbagai komoditas pertanian berpotensi melonjak hingga akhir 2026. (Investor.id)

Tentang kami

Contact

support@kadininstitute.id

Menara Kadin Indonesia, Jl. H.R. Rasuna Said, Blok X-5 Kav. 2-3, Jakarta 12950

© 2025 Kadin Indonesia Institute