Arab Saudi Batasi Impor Unggas, Kementan: Dampak ke Industri Nasional Terbatas
Arab Saudi melalui Saudi Food and Drug Authority memberlakukan pembatasan impor unggas dan telur dari banyak negara, termasuk Indonesia, sebagai langkah pencegahan kesehatan dan keamanan pangan. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertanian menilai dampaknya terhadap industri unggas nasional terbatas karena volume ekspor ke Saudi masih kecil. Kebijakan ini juga mendorong penguatan standar kesehatan hewan dan biosekuriti domestik. Indonesia tetap bisa mengekspor produk unggas olahan yang memenuhi persyaratan sanitasi internasional. (Kontan.co.id)
Ketidakpastian Tarif AS Buat Pebisnis Tunda Ekspansi, Sektor Tekstil-Garmen Terdampak
Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyatakan pelaku usaha masih menunda ekspansi karena ketidakpastian tarif Amerika Serikat yang belum jelas arahnya. Kondisi ini membuat eksportir enggan mengunci kontrak jangka panjang dan importir menunda pembelian bahan baku. Akibatnya, sektor padat karya seperti tekstil-garmen terdampak karena rencana investasi dan perluasan kapasitas ditunda sambil menunggu kepastian kebijakan tarif yang stabil. Ketidakjelasan ini mempengaruhi perencanaan bisnis dan ekspor industri Indonesia ke pasar AS. (Kontan.co.id)
Tekanan Fiskal Meningkat, S&P Ingatkan Ancaman bagi Peringkat Utang Indonesia
S&P Global Ratings memperingatkan tekanan fiskal Indonesia meningkat, terutama karena biaya pembayaran bunga utang yang kemungkinan telah melampaui ambang 15% dari pendapatan negara, sehingga menambah risiko penurunan peringkat utang sovereign Indonesia. S&P masih mempertahankan outlook stabil pada peringkat BBB, tetapi sinyal kewaspadaan kuat karena defisit fiskal yang mendekati batas 3% PDB dan lemahnya penerimaan negara. Lembaga ini menilai kerangka fiskal jangka menengah dan pendapatan negara sebagai kunci untuk menjaga kredibilitas kredit. Sebelumnya, Moody’s juga menurunkan outlook utang Indonesia menjadi negatif. (Kontan.co.id)
Prabowo Gelar Pertemuan dengan MBZ, UEA Janji Tingkatkan Investasi di Indonesia
Presiden Prabowo Subianto mengadakan pertemuan bilateral dengan Presiden Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan (MBZ) dari Uni Emirat Arab di Istana Qasr Al Bahr, Abu Dhabi pada 26 Februari 2026. Dalam pertemuan itu, MBZ menegaskan komitmen negaranya untuk meningkatkan investasi di Indonesia, terutama di sektor ekonomi dan infrastruktur, sebagai bagian dari penguatan hubungan strategis kedua negara. Prabowo menyambut baik dan menegaskan Indonesia siap menciptakan iklim investasi yang kondusif. Momentum ini bertepatan dengan peringatan 50 tahun hubungan diplomatik Indonesia–UEA. (Kontan.co.id)
Pengusaha Wait and See Hadapi Tarif Trump, Sektor Manufaktur Dinilai Paling Terdampak
Pengusaha di Indonesia memilih bersikap wait and see menghadapi perubahan kebijakan tarif dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump, karena ketidakpastian masih tinggi. Ekonom dari CORE Indonesia menilai sektor manufaktur akan menjadi yang paling terdampak akibat kemungkinan perubahan tarif ini. Kondisi ini membuat pelaku usaha menunda ekspansi dan fokus pada penyesuaian internal sambil menunggu kepastian arah kebijakan perdagangan global sebelum mengambil keputusan besar. (Kontan.co.id)
Indonesia Beri Akses Mineral Kritis ke AS, Wamen Investasi: Wajib Hirilisasi
Pemerintah Indonesia memberikan akses kepada pelaku usaha Amerika Serikat untuk terlibat dalam sektor mineral kritis, termasuk permintaan akses dari AS, namun dengan syarat kuat bahwa investor wajib menanamkan modal untuk hilirisasi dan pengolahan di dalam negeri. Pemerintah tetap menegaskan larangan ekspor bahan mentah tanpa pengolahan, sehingga perusahaan asing hanya boleh masuk jika berinvestasi dalam processing di Indonesia. Kebijakan ini bertujuan memastikan kerja sama yang setara dan menguntungkan sambil mengejar target investasi besar dalam hilirisasi komoditas strategis nasional. (Kontan.co.id)
Imbas Perizinan yang Rumit, BKPM Akui Investasi RI Jadi Kalah Saing Dengan Vietnam
BKPM mengakui bahwa proses perizinan berusaha yang masih rumit dan memakan waktu menjadi salah satu faktor utama yang membuat arus investasi ke Indonesia kalah bersaing dibandingkan Vietnam. Prosedur yang panjang memperlambat realisasi investasi, sehingga Indonesia kurang menarik bagi investor asing. Kondisi ini berdampak pada siklus investasi yang lebih lama di Indonesia dibanding Vietnam, yang memiliki proses lebih cepat dan sederhana, membuat Vietnam lebih kompetitif dalam menarik modal investasi. (Kontan.co.id)
China Bakal Beli Kredit Karbon dari Industri Sawit Indonesia
China berencana membeli unit kredit karbon dari industri kelapa sawit Indonesia sebagai bagian dari kerja sama perdagangan karbon antara kedua negara. Rencana ini mencakup bantuan China untuk mengembangkan mekanisme penghitungan dan perdagangan karbon di sektor sawit, termasuk teknologi rendah emisi. Inisiatif tersebut diharapkan membuka peluang pendanaan baru bagi industri sawit Indonesia dan memperkuat nilai ekonomi berkelanjutan dari pengurangan emisi. Upaya ini juga sejalan dengan kerja sama yang lebih luas antara pemerintah Indonesia dan institusi China dalam mendukung pembangunan ekonomi hijau dan pengembangan pasar karbon global. (Investor.id)
Larangan Truk Sumbu Tiga Ganggu Industri Manufaktur
Pelarangan operasional truk sumbu tiga oleh pemerintah selama 17 hari pada momen Lebaran 2026 berpotensi mengganggu distribusi bahan baku dan produk industri manufaktur. Kebijakan ini dapat menunda pasokan kardus kemasan ke pabrik, memicu penumpukan barang, serta menghambat proses produksi. Pelaku usaha meminta adanya pengecualian karena sebagian industri tetap beroperasi saat Lebaran. Mereka menilai larangan tersebut bisa berdampak negatif terhadap kelancaran rantai pasok dan kinerja sektor manufaktur secara keseluruhan. Pemerintah diharapkan mempertimbangkan solusi agar aktivitas industri tetap berjalan optimal tanpa mengganggu arus mudik. (Investor.id)
IKI Februari 2026 Tetap Ekspansif, Meskipun Melambat ke Level 54,02
Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Februari 2026 mencapai 54,02, sedikit turun 0,10 poin dari Januari 2026, namun tetap berada di atas angka 50 yang menandakan sektor industri pengolahan nasional masih dalam zona ekspansi. Performa ini juga lebih tinggi dibandingkan Februari 2025, meningkat 0,87 poin. Sebanyak 19 dari 23 subsektor industri menunjukkan ekspansi dan berkontribusi besar terhadap PDB industri pengolahan non-migas. Meski ada perlambatan tipis, sebagian besar pelaku usaha tetap optimistis terhadap kondisi usaha ke depan. (Investor.id)