WEEKLY UPDATE

KII GEOPOLITICAL PULSE

EDISI X —  Mengapa Amerika Serikat Menyerang Venezuela, dan Apa Artinya bagi Tatanan Global?

WhatsApp-Image-2025-06-24-at-15.08.29-1-e1751866453553.jpeg

Editor:

Ahmad Syarif

Ahmad Syarif adalah editor untuk KII Geopolitical Pulse. Saat ini, beliau sedang menempuh studi pada program Doctor of International Affairs di School of Advanced International Studies (SAIS), Johns Hopkins University, kampus Washington, D.C. Sebelum memulai studi doktoralnya, Ahmad bekerja selama sepuluh tahun di BowerGroupAsia, sebuah firma konsultan investasi dan kebijakan di Asia. Disertasinya berfokus pada perbandingan strategi non-pasar yang digunakan oleh investor dari Amerika Serikat dan Tiongkok di Asia Tenggara.

Perbedaan Kepentingan di Balik Tersingkirnya Nicolás Maduro

Serangan ke Caracas dan penculikan Presiden Venezuela Nicolás Maduro menjadi kejutan awal tahun bagi banyak pihak. Secara hampir bersamaan, Teheran dan Beijing, serta sejumlah pemimpin kiri di Amerika Latin, menyampaikan keprihatinan serius atas perkembangan ini. Meski fakta-fakta masih akan terus terungkap, sejak awal penting untuk mengajukan satu pertanyaan mendasar: Siapa di dalam Gedung Putih yang berkepentingan dengan operasi ini, dan mengapa? Secara garis besar, kepentingan di balik penangkapan Maduro dapat dipahami melalui dua kelompok utama di lingkar kekuasaan di Washington.

Dua Kelompok di Washington

Kelompok pertama berpusat pada Presiden Donald Trump dan Penasihat Urusan Dalam Negeri Stephen Miller. Dari sudut pandang mereka, menyingkirkan Maduro dipandang sebagai cara untuk mengkonsolidasikan kembali dukungan politik domestik, khususnya di kalangan komunitas Amerika Latin anti-Maduro, terutama di negara bagian Florida dan Texas

Trump juga kemungkinan melihat operasi ini sebagai kesempatan untuk menunjukkan kredibilitas kekuatan militernya, baik kepada negara-negara Amerika Latin maupun kepada Rusia, Iran, dan terutama China. 

Namun, pendekatan ini mengandung risiko politik domestik. Sebagian basis pendukung MAGA (Make America Great Again) dikenal skeptis terhadap intervensi militer luar negeri. Meski demikian, durasi operasi yang dilaporkan sangat singkat – sekitar tiga jam – serta tidak adanya pendudukan militer Amerika Serikat di Venezuela pasca-operasi tampaknya berhasil meredam reaksi negatif dari kelompok MAGA anti-perang. 

Kelompok kedua dipimpin oleh Marco Rubio, yang menjabat sebagai Menteri Luar Negeri sekaligus Penasihat Keamanan Nasional Amerika Serikat, bersama unsur-unsur militer dan departemen keamanan nasional AS. Dari perspektif ini, penangkapan Maduro melayani tujuan geostrategis yang lebih luas, yaitu memperketat kendali atas ekspor minyak Venezuela, terutama yang mengalir ke China. 

Membatasi akses China terhadap energi Venezuela berpotensi melemahkan posisi strategis Beijing, sekaligus membuka kembali peluang akses energi bagi Amerika Serikat dan sekutunya. Walau ide ini tidak datang dari Trump, dia kemudian menggunakan narasi ini sebagai narasi utama untuk menguasai minyak Venezuela.  

Kekosongan Strategi Pasca-Maduro

Namun, satu pertanyaan besar tetap belum terjawab: apa langkah selanjutnya? Hingga saat ini, belum terlihat adanya rencana pasca-Maduro yang jelas. Ketidakpastian masih tinggi. Siapa yang kini secara efektif memerintah Venezuela? Apakah telah ada komunikasi dengan Wakil Presiden Delcy Rodríguez, yang secara formal sudah menjabat presiden ad-interim? Apakah terdapat mekanisme transisi kekuasaan yang kredibel dan dapat diterima baik oleh sekutu Venezuela atau terutama warga Venezuela sendiri? 

Trump sendiri secara terbuka menyatakan bahwa pemimpin oposisi María Corina Machado tidak memiliki legitimasi luas di mata rakyat Venezuela. Posisi Machado pun menjadi semakin sulit. Memperoleh kekuasaan melalui penyingkiran seorang presiden oleh kekuatan asing berpotensi merusak legitimasi politiknya, bukan hanya di mata pendukung Maduro, tetapi juga di kalangan moderat dan kelompok anti-Maduro yang tidak nyaman dengan metode yang digunakan Washington untuk menggulingkan Maduro. 

Trump dilaporkan telah menugaskan Rubio untuk mengelola proses transisi serta kemungkinan negosiasi dengan Caracas. Tugas ini jelas tidak ringan. Saluran diplomatik antara Washington dan Caracas nyaris tidak berfungsi semenjak 2019. Selain itu, banyak diplomat senior Amerika Serikat dengan keahlian kawasan Amerika Latin tidak lagi berada dalam pemerintahan, baik akibat restrukturisasi birokrasi di bawah kebijakan efisiensi pemerintah (DOGE), maupun karena memilih mengundurkan diri seiring berkurangnya otonomi institusional Departemen Luar Negeri di era Trump. 

Risiko Eskalasi Regional dan Global

Venezuela kini berada pada titik kritis. Beberapa bulan ke depan akan sangat menentukan. Kesalahan langkah berpotensi mendorong negara tersebut ke krisis politik dan ekonomi yang lebih dalam. Jika instabilitas memburuk, ambisi Washington untuk mengelola minyak Venezuela atau membatasi akses China terhadapnya bisa menjadi tidak relevan. Venezuela berisiko berubah menjadi konflik berkepanjangan seperti Irak, atau bahkan lebih buruk. 

Di luar kawasan Amerika Latin, Teheran, Beijing, dan Moskow, serta Ankara dan aktor internasional lainnya, kemungkinan akan memasuki mode krisis. Peristiwa ini dapat dipersepsikan sebagai preseden berbahaya bagi tindakan sepihak Amerika Serikat, sehingga mempercepat upaya negara-negara tersebut untuk memperkuat keamanan internal, memperdalam koordinasi strategis, dan mempersiapkan diri menghadapi potensi konfrontasi di masa depan. Sejarah menunjukkan bahwa perang jarang dimulai oleh satu insiden tunggal. Ia kerap lahir dari akumulasi persepsi risiko yang semakin tinggi, ketika eskalasi menjadi lebih mudah dibenarkan oleh semua pihak. 

Apa Dampaknya bagi Indonesia dan Dunia Usaha?

Pemerintah Indonesia tidak mengeluarkan kecaman resmi atas penangkapan Nicolás Maduro, berbeda dengan sikap Malaysia contohnya yang tegas mengecam aksi sepihak Amerika. Sikap ini kemungkinan mencerminkan kehati-hatian diplomatik Indonesia, terutama di tengah fase baru negosiasi perdagangan yang direncanakan akan diresmikan dalam waktu dekat. 

Hingga 9 Januari 2026, Wakil Presiden Delcy Rodríguez menunjukkan itikad untuk membuka ruang negosiasi dengan Presiden Trump, ini merupakan sinyal yang positif. Sampai tanggal 10 Januari, tidak ada tanda-tanda kenaikan harga minyak yang berlebihan, hanya fluktuasi kecil di dua hari pertama. 

Yang patut dicermati dalam beberapa minggu ke depan adalah bentuk proposal konkret yang akan diajukan Amerika Serikat kepada Venezuela, serta bagaimana kesepakatan atau kegagalannya, akan mempengaruhi pasar energi global dan dinamika perdagangan internasional.

Bagikan:

Bacaan lainnya!

Editor: Ahmad Syarif

Ahmad Syarif adalah editor untuk KII Geopolitical Pulse. Saat ini, beliau sedang menempuh studi pada program Doctor of International Affairs di School of Advanced International Studies (SAIS), Johns Hopkins University, kampus Washington, D.C. Sebelum memulai studi doktoralnya, Ahmad bekerja selama sepuluh tahun di BowerGroupAsia, sebuah firma konsultan investasi dan kebijakan di Asia. Disertasinya berfokus pada perbandingan strategi non-pasar yang digunakan oleh investor dari Amerika Serikat dan Tiongkok di Asia Tenggara.

Penanggung Jawab oleh:

  • Mulya Amri Ph.D. | Ketua Pengurus Kadin Indonesia Institute (KII)
  • Fakhrul Fulvian | Direktur Insights KII

Co-editor: Jesslyn Katherine, Program Manager KII dan tim KII Geopolitical Pulse

Tentang kami

Contact

support@kadininstitute.id

Menara Kadin Indonesia, Jl. H.R. Rasuna Said, Blok X-5 Kav. 2-3, Jakarta 12950

© 2025 Kadin Indonesia Institute