RI–Korea Selatan Perkuat Kerja Sama, Sejumlah MoU Bisnis Tembus Rp 173 Triliun
Indonesia dan Korea Selatan memperkuat kemitraan ekonomi melalui penandatanganan sejumlah nota kesepahaman (MoU) bisnis senilai sekitar Rp173 triliun. Kesepakatan ini mencakup berbagai sektor strategis, seperti energi terbarukan, industri manufaktur, transportasi ramah lingkungan, serta digital dan kecerdasan buatan. Kerja sama tersebut merupakan bagian dari upaya memperdalam hubungan bilateral dan meningkatkan investasi. Pemerintah menilai komitmen ini menunjukkan tingginya kepercayaan investor asing terhadap Indonesia serta diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi, transformasi industri, dan penguatan posisi Indonesia dalam rantai pasok global. (Kontan.co.id)
Gejolak Global Tekan Industri Manufaktur, Pemerintah Diminta Jaga Daya Beli
Kinerja industri manufaktur Indonesia melambat pada akhir kuartal I-2026, tercermin dari penurunan PMI menjadi 50,1 yang mendekati stagnasi. Pelemahan dipicu turunnya permintaan dan ekspor, kenaikan biaya energi, serta gangguan rantai pasok akibat ketidakpastian global. Kondisi ini menekan produksi dan utilisasi pabrik. Pemerintah dan pelaku usaha didorong menstabilkan biaya produksi, menjaga harga energi, serta memperkuat permintaan domestik. Upaya menjaga daya beli masyarakat melalui stimulus fiskal dan belanja publik dinilai krusial untuk menopang pertumbuhan dan ketahanan industri. (Kontan.co.id)
Tambahan Anggaran Subsidi Energi Bakal Bisa Redam Lonjakan Harga Minyak Jangka Pendek
Pemerintah menambah anggaran subsidi energi sekitar Rp90–Rp100 triliun guna meredam dampak lonjakan harga minyak dunia. Kebijakan ini dinilai mampu menjaga stabilitas harga energi dan memberi ruang napas jangka pendek bagi APBN. Namun, efektivitasnya terbatas karena tekanan fiskal tetap tinggi jika harga minyak bertahan tinggi dalam jangka panjang. Ekonom menilai tambahan subsidi hanya bersifat sementara, terutama bila harga rata-rata tahunan minyak mendekati atau melampaui US$100 per barel, yang berpotensi meningkatkan beban subsidi secara signifikan dan mempersempit ruang fiskal negara. (Kontan.co.id)
Inflasi Maret 2026 Melandai ke 0,41%, Tekanan Turun tapi Risiko Masih Mengintai
Inflasi Indonesia pada Maret 2026 tercatat sebesar 0,41% (mtm), melambat dari Februari 0,68%, menandakan tekanan harga mulai mereda. Secara tahunan, inflasi turun menjadi 3,48% (yoy), meski masih relatif tinggi. Pendorong utama inflasi berasal dari kelompok pangan seperti beras, daging ayam, dan cabai, serta energi dan transportasi. Sementara itu, penurunan tarif angkutan udara dan harga emas membantu meredam inflasi. Ke depan, inflasi diperkirakan tetap terkendali jika harga BBM stabil, namun risiko kenaikan tetap ada akibat faktor global, kebijakan energi, dan peningkatan permintaan domestik. (Kontan.co.id)
RI-Korsel Sepakati 10 Kerja Sama Strategis, Dorong Ekonomi dan Industri Masa Depan
Indonesia dan Korea Selatan menyepakati 10 kerja sama strategis melalui penandatanganan nota kesepahaman dalam kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Seoul. Kesepakatan mencakup sektor ekonomi, energi, digital, kesehatan, serta industri masa depan. Kolaborasi ini diarahkan untuk memperkuat kemitraan jangka panjang, mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif, dan meningkatkan ketahanan industri. Sinergi keunggulan sumber daya Indonesia dan teknologi Korea Selatan diharapkan mempercepat transformasi menuju ekonomi berbasis teknologi dan energi bersih di tengah ketidakpastian global. (Kontan.co.id)
Aturan Tembakau Diminta Tetap Proporsional untuk Antisipasi Dampak Sosial dan PHK
Regulasi tembakau diminta disusun secara proporsional dengan mempertimbangkan aspek kesehatan, ekonomi, dan sosial. DPR menekankan pengawasan terhadap kebijakan, termasuk rencana kemasan polos, agar tidak menimbulkan dampak negatif seperti pemutusan hubungan kerja (PHK) dan gejolak sosial. Industri tembakau yang bersifat padat karya dinilai melibatkan banyak tenaga kerja, sehingga kebijakan yang terlalu ketat berpotensi mengganggu keberlangsungan usaha dan kesejahteraan pekerja. Oleh karena itu, pemerintah diharapkan merumuskan aturan yang seimbang, adil, serta mampu melindungi kepentingan kesehatan tanpa mengabaikan dampak ekonomi dan sosial. (Kontan.co.id)
Surplus Perdagangan Indonesia Tembus 70 Bulan Berturut-turut, AS Penopang Utama
Surplus neraca perdagangan Indonesia pada Februari 2026 mencapai US$1,27 miliar dan menandai tren surplus selama 70 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Surplus terutama ditopang sektor nonmigas, meski mengalami penurunan dibanding bulan sebelumnya, sementara sektor migas masih defisit. Amerika Serikat menjadi kontributor utama surplus, diikuti India dan Filipina. Sebaliknya, defisit terbesar berasal dari China, Australia, dan Singapura. Secara kumulatif, surplus awal 2026 menurun dibanding tahun lalu, namun tetap mencerminkan stabilitas ekonomi nasional. (Kontan.co.id)
Industri Manufaktur Tertekan, Pengusaha Usul Insentif Pajak dan Proteksi Industri
Kinerja industri manufaktur Indonesia pada Maret 2026 mengalami tekanan dan nyaris stagnan, tercermin dari penurunan PMI ke level 50,1. Kondisi ini dipicu oleh kenaikan biaya energi, gangguan rantai pasok global, serta melemahnya permintaan dan ekspor akibat ketidakpastian geopolitik. Pelaku usaha mengusulkan pemerintah memberikan insentif pajak, menjaga stabilitas harga bahan baku, serta memperkuat proteksi industri dalam negeri. Langkah tersebut dinilai penting untuk menekan biaya produksi, menjaga likuiditas, dan mencegah penurunan kinerja industri lebih lanjut. (Kontan.co.id)
Danantara Gandeng QIA Garap Proyek Pariwisata Baru di Labuan Bajo
Kementerian Koordinator Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM) berupaya memperkuat kebijakan industri gim nasional melalui penyerapan aspirasi pelaku industri. Langkah ini dilakukan seiring pertumbuhan signifikan subsektor gim, dengan nilai ekspor mencapai US$60,8 juta pada 2025. Namun, pangsa pasar gim lokal di dalam negeri masih sekitar 1% dan didominasi produk impor. Pemerintah juga mendorong percepatan melalui Perpres Nomor 19 Tahun 2024. Masukan dari praktisi akan dirumuskan menjadi kebijakan konkret guna meningkatkan daya saing gim lokal di pasar domestik dan global. (Kontan.co.id)
BI Sebut Indonesia–Korea Selatan Kerjasama Erat dengan Implementasi QRIS Cross Border
Bank Indonesia menyatakan kerja sama Indonesia dan Korea Selatan semakin erat melalui implementasi QRIS cross border sebagai bagian penguatan kolaborasi ekonomi dan keuangan digital. Inisiatif ini telah masuk dalam visi bersama kedua negara di tingkat kepala negara, mencerminkan keselarasan kebijakan dan komitmen memperdalam hubungan bilateral. QRIS lintas negara dipandang bukan sekadar aspek teknis, melainkan kemitraan strategis untuk meningkatkan konektivitas ekonomi digital. Implementasi tersebut diharapkan menjadi katalis pertumbuhan pariwisata, perdagangan, dan investasi, serta mendukung integrasi ekonomi yang berkelanjutan. (Kontan.co.id)